Pelipur Lara di Tengah Puing -->

AdSense New

Pelipur Lara di Tengah Puing

Selasa, 21 April 2026
Hadir untuk Rakyat: Momen Wali Kota Sawahlunto menyerahkan bantuan sosial senilai Rp10.000.000,- sebagai bentuk dukungan pemulihan bagi korban kebakaran. (foto/diskominfo sawahlunto)


Oleh: Anton Saputra (Wartawan Madya Sertifikasi Dewan Pers)


LANGIT di atas Desa Santur, Kecamatan Barangin, mungkin sudah kembali cerah pada Selasa pagi, 21 April 2026. Namun, bagi Bapak Jumiran dan Bapak Rahma Geni Saputra, dunia seolah berhenti berputar sejak Senin malam sebelumnya. Di hadapan mereka, bukan lagi rumah tempat mereka merajut mimpi, melainkan tumpukan arang dan seng yang meliuk kaku terpanggang api. 


Aroma sangit yang menusuk hidung menjadi saksi bisu betapa cepatnya takdir mengubah kehangatan keluarga menjadi tumpukan abu yang mendingin dalam semalam. Kesedihan itu begitu nyata, menggantung berat di kelopak mata yang memerah karena lelah dan tangis yang belum juga usai.


​Di tengah keheningan duka yang mencekam itu, langkah kaki Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, terdengar memecah kegetiran. Ia tidak datang dengan iring-iringan mewah yang berjarak, melainkan melangkah langsung ke titik di mana duka itu bermula. Berdiri di antara puing-puing yang masih menyisakan hawa panas, Wali Kota menatap lekat raut wajah warganya yang hancur. 


Kehadirannya pagi itu bukan sekadar menjalankan tugas kenegaraan, melainkan sebuah kunjungan kalbu untuk memastikan bahwa di bawah reruntuhan itu, harapan tidak ikut terkubur. Ada momen-momen sunyi saat ia mendengarkan keluh kesah para korban, seolah ingin ikut memikul separuh beban yang sedang menghimpit pundak mereka.


​Cinta dan kepedulian pemerintah kota kemudian menjelma menjadi tindakan nyata yang menghanyutkan rasa haru. Melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, secarik kertas Kartu Keluarga dan sekeping KTP baru diserahkan kepada para korban yang telah kehilangan segalanya. Di tengah kehilangan harta benda yang tak terhitung nilainya, pemulihan dokumen identitas ini menjadi simbol bahwa mereka tidak kehilangan jati diri. 


Pemerintah seakan ingin membisikkan bahwa meskipun rumah mereka telah rata dengan tanah, hak mereka sebagai warga negara tetap tegak berdiri. Paket kebutuhan pokok dan perlengkapan darurat pun mengalir, mencoba menambal lubang-lubang kebutuhan yang menganga lebar pasca-musibah.


​Dialog antara pemimpin dan rakyatnya di atas tanah bekas kebakaran itu menjadi puncak dari narasi kemanusiaan ini. Wali Kota Riyanda tidak ingin janji-janjinya hanya terbang bersama angin di atas puing Santur. 


Dengan nada suara yang bergetar namun penuh ketegasan, ia menginstruksikan seluruh jajarannya untuk terus mengawal proses pemulihan ini hingga tuntas. Baginya, bantuan sosial dan logistik hanyalah langkah awal dari sebuah perjalanan panjang untuk membangun kembali kehidupan yang sempat runtuh dilalap api.


​"Saya instruksikan kepada seluruh OPD terkait agar memastikan bantuan ini tepat sasaran dan berkelanjutan. Kita harus hadir memastikan warga kita kembali pulih, baik secara fisik bangunan maupun pendampingan lainnya," tegas Wali Kota Riyanda Putra. 


Ucapan itu menjadi sauh yang mengikat harapan warga Desa Santur agar tidak hanyut lebih jauh dalam keputusasaan. Pagi itu, di Desa Santur, semua orang belajar satu hal: bahwa api memang bisa menghanguskan raga sebuah rumah, namun ia tak pernah cukup kuat untuk membakar habis kasih sayang dan kepedulian yang tumbuh di hati sesama manusia. (*_*)