![]() |
| Kondisi jalan di Mentawai yang memprihatinkan. |
Mentawai, fajarsumbar.com - Menjelang pelaksanaan ajang selancar dunia Mentawai Pro WSL QS 6000 pada Agustus 2026 mendatang, kondisi ruas jalan nasional Tuapejat–Sioban–Katiet di Kabupaten Kepulauan Mentawai mulai menjadi perhatian masyarakat. Akses utama menuju lokasi iven internasional itu dinilai membutuhkan penanganan dan pemeliharaan segera agar aktivitas masyarakat maupun tamu mancanegara dapat berjalan lancar.
Pantauan di lapangan, Senin (25/5/2026), kondisi ruas jalan Takkuman–Sioban masih memprihatinkan. Selain badan jalan yang sempit, sejumlah titik juga dipenuhi lubang sehingga menyulitkan kendaraan roda empat saat berpapasan. Lebar jalan di beberapa lokasi bahkan diperkirakan hanya sekitar tiga meter.
Tak hanya itu, rerumputan liar di sepanjang bahu jalan Sioban–Katiet juga mulai menjalar hingga ke badan jalan. Kondisi tersebut membuat akses menuju kawasan wisata surfing Katiet terlihat kurang terawat, padahal daerah itu akan menjadi pusat perhatian wisatawan dan atlet selancar dunia dalam beberapa bulan mendatang.
Tokoh masyarakat Sioban, Ali Nurdin, menilai hingga kini belum terlihat adanya penanganan serius terhadap jalan nasional sepanjang lebih kurang 31 kilometer tersebut. Menurutnya, akses itu merupakan jalur vital yang menghubungkan dua kecamatan di Pulau Sipora dan setiap hari digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas.
“Kami berharap pemerintah pusat melalui Balai Jalan Nasional segera turun melakukan perbaikan dan pemeliharaan. Sangat disayangkan statusnya jalan nasional, tetapi kondisinya belum terawat dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan Mentawai Pro WSL QS 6000 nantinya akan membawa nama Mentawai ke panggung internasional. Karena itu, kesiapan infrastruktur jalan dinilai menjadi hal penting agar wisatawan dan peserta lomba mendapatkan kenyamanan selama berada di daerah tersebut.
“Agustus nanti Mentawai akan menjadi perhatian dunia, khususnya pencinta olahraga surfing. Namun akses menuju lokasi acara masih banyak kendala, bahkan di beberapa titik sudah dipenuhi rumput,” katanya.
Sementara itu, Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana Samaloisa, mengakui kondisi ruas jalan nasional Tuapejat–Katiet memang masih membutuhkan perhatian lebih. Pemerintah daerah, kata dia, saat ini terus melakukan berbagai persiapan menghadapi pelaksanaan Mentawai Pro 2026.
Menurut Rinto, Pemkab Mentawai juga menggandeng TNI untuk membantu pembenahan sejumlah infrastruktur pendukung, mulai dari jembatan hingga kawasan Pelabuhan Bokasa di Katiet.
“Kita akan memperlebar jembatan di Katiet menjadi lima meter agar akses masyarakat dan para peselancar lebih nyaman. Selain itu, kami juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kebersihan di sepanjang jalan dan kawasan pantai,” ungkapnya.
Ia juga berharap dukungan penuh dari Balai Jalan Nasional untuk mempercepat perbaikan jalan dan jembatan, terutama pada ruas yang mengalami kerusakan cukup parah dari kilometer nol Tuapejat hingga Katiet.
Pemkab Mentawai menilai kesiapan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting dalam menyukseskan Mentawai Pro WSL QS 6000, yang selama ini dikenal sebagai salah satu ajang surfing internasional paling bergengsi di Indonesia. Selain berdampak pada sektor pariwisata, kegiatan tersebut juga diyakini mampu menggerakkan perekonomian masyarakat lokal.(Arf)
Komentar