Fitri Anita, Mengarungi Laut Hidup Demi Suami dan Keluarga -->

AdSense New

Fitri Anita, Mengarungi Laut Hidup Demi Suami dan Keluarga

Senin, 11 Mei 2026



.


Tuapejat, fajarsumbar.com - Di ujung perahu kayu kecil yang bergoyang diterpa ombak Samudera Hindia, Fitri Anita (43) berdiri tegak. Tangannya yang kasar, penuh kapalan dan bekas luka, bergerak cekatan menarik jala. 


Di balik gerakannya yang terbiasa itu, tersimpan perjuangan berat yang telah ia lalui selama tiga tahun terakhir. 


Warga Dusun Jati, desa Tuapejat, Kepulauan Mentawai ini kini bukan lagi sekadar ibu rumah tangga, melainkan tulang punggung keluarga yang harus berjuang di laut, di ladang, sekaligus merawat suaminya yang menderita stroke. 


Segalanya berubah drastis tiga tahun silam, ketika Antonius, suami tercintanya, terserang stroke. Penyakit itu tak hanya melumpuhkan tubuhnya, tetapi juga mengganggu kondisi kejiwaannya. Sejak hari itu, seluruh tanggung jawab hidup keluarga berpindah sepenuhnya ke pundak Fitri.


.


“Sejak bapak kena stroke dan mentalnya pun ikut terganggu, saya yang harus mencari nafkah. Apa saja pekerjaan halal akan saya kerjakan. Kalau cuaca bagus, saya ke laut. Kalau ombak besar dan cuaca buruk, saya turun ke ladang,” ungkap Fitri dengan suara lembut namun tegas.


Menjadi nelayan adalah dunia baru yang keras baginya. Dulu, ia hanya mengenal urusan dapur dan rumah. Kini, ia harus berhadapan dengan angin kencang, dan tenaga fisik yang harus dikerahkan habis-habisan. Hasilnya pun tak menentu. Saat tangkapan melimpah, kebutuhan makan dan obat suami terpenuhi. Namun saat laut sedang tidak baik, ia dan keluarganya terpaksa hidup seadanya, menahan lapar demi tetap bertahan.


Rutinitasnya dimulai jauh sebelum matahari terbit. Di rumah panggung tua miliknya, Fitri lebih dulu menyiapkan keperluan Antonius, menyuapi makan dan obat, serta memastikan suaminya nyaman sebelum ia pergi bekerja. Tak cukup sampai di situ, ia juga harus siap menghadapi perubahan suasana hati dan perilaku suaminya yang tidak stabil akibat dampak penyakitnya. Berjam-jam waktu tersita hanya untuk merawat, mendampingi, dan menenangkan Antonius—semua itu dilakukan di sela-sela waktu kerjanya yang padat.


.


Dulu, kehidupan mereka cukup tenang dan teratur. Antonius adalah sosok tangguh yang bekerja keras menafkahi keluarga, sementara Fitri mengurus rumah dengan penuh kasih. Hidup mereka sederhana namun bahagia. Semuanya runtuh seketika saat penyakit datang merenggut kemampuan Antonius beraktivitas. 


Kini, penderitaan mereka tak hanya berhenti soal ekonomi. Rumah tempat mereka tinggal pun jauh dari kata layak huni. Atap rumah sudah banyak bolong, sehingga setiap kali hujan turun, airnya merembes masuk membasahi ruang tamu hingga kamar tidur. Hanya ada satu kamar yang masih bisa ditempati dengan cukup aman di rumah itu. Meski hidup dalam keterbatasan yang menyakitkan, Fitri tak pernah sekalipun mengeluh atau menyalahkan keadaan. Ia menanggung semua beban itu dengan ikhlas.


.


“Apa lagi yang bisa saya lakukan? Dia suami saya, bapak bagi anak-anak kami. Saya harus kuat demi dia dan demi kelangsungan hidup kami semua. Berjuang dan bertahan adalah satu-satunya cara agar keluarga ini tetap utuh dan dia tetap terurus dengan baik,” ucapnya tegas.


Melihat ketegaran Fitri, Anggota Bhabinkamtibmas Polres Mentawai untuk Sipora Utara, Donny, sangat mengapresiasi sekaligus prihatin atas kondisi yang dialami warganya itu. Menurutnya, perjuangan Fitri telah berlangsung hampir tiga tahun lamanya. Tiga bulan lalu, Dinas Sosial Kepulauan Mentawai sempat berkunjung ke rumah mereka dan berjanji akan memberikan bantuan, namun hingga kini janji itu belum terwujud nyata.


“Kini sudah masuk bulan Mei, kami sangat berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan, baik berupa materi maupun layanan pendampingan. Beban yang dipikul Fitri sangat berat bukan hanya soal uang makan, tapi juga soal kesehatan dan penanganan psikis suaminya yang butuh perhatian terus-menerus. Apalagi mereka tinggal di kawasan wisata. Sangat disayangkan jika ada warga yang hidup dalam kondisi serba kekurangan dan rumah tak layak seperti ini,” ungkapnya.(arif rahmad daut)