![]() |
| . |
Padang, fajarsumbar.com – Suasana hangat penuh keakraban mewarnai kunjungan rombongan Komunitas Ibu Cerdas Indonesia (KICI) ke Galeri Permata Hati Grup di Kota Padang, Minggu (17/5). Kegiatan yang berlangsung dalam rangka Satu Dekade KICI Chapter 8 itu dihadiri pengurus dan anggota KICI dari Kota Padang, DPW Sumbar hingga Kota Pariaman.
Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi antarorganisasi perempuan, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang peluang kerja sama di bidang budaya dan pemberdayaan perempuan melalui produk khas Minangkabau.
Ketua KICI Kota Padang, Woro Muharlion mengatakan, pihaknya tertarik melihat langsung berbagai karya kreatif yang dihasilkan Permata Hati Grup, terutama deta dan tingkuluak yang dinilai memiliki ciri khas tersendiri.
Menurutnya, produk yang dihasilkan tidak hanya menarik dari sisi estetika, namun juga memiliki nilai budaya yang kuat sehingga berpotensi dikembangkan lebih luas melalui kolaborasi bersama komunitas perempuan.
“Kami melihat banyak potensi yang bisa dikembangkan bersama. Permata Hati Grup memiliki kreativitas luar biasa dalam menghadirkan deta dan tingkuluak dengan tampilan elegan dan menarik,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPW KICI Sumbar, Yuhilda Darwis menegaskan organisasi yang dipimpinnya selama ini aktif bergerak dalam bidang sosial dan pelestarian budaya. Karena itu, ia menyambut positif kunjungan ke galeri tersebut.
Ia menilai kehadiran Permata Hati Grup telah memberi kontribusi nyata dalam memperkenalkan budaya Minangkabau kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan melalui pelatihan pembuatan deta dan tingkuluak di sejumlah wilayah di Kota Padang.
Menurut Yuhilda, owner Permata Hati Grup juga telah aktif membagikan keterampilan kepada masyarakat di berbagai kelurahan, termasuk di kawasan Koto Tangah, Rawang Mata Air hingga Banuaran.
Ketua DPD KICI Pariaman, Desmawati turut mengungkapkan kekagumannya terhadap tingkuluak produksi Permata Hati yang dianggap praktis, modern, namun tetap mempertahankan nuansa adat Minangkabau.
Ia mengaku tertarik mengetahui proses pembuatan tingkuluak yang kini mulai dikenal luas hingga ke luar daerah tersebut.
Menanggapi hal itu, Owner Permata Hati Grup, Welly Nofi Sastera menjelaskan seluruh deta dan tingkuluak yang diproduksi merupakan hasil kreasi orisinal yang dikembangkan sendiri tanpa meninggalkan nilai-nilai adat Minangkabau.
Ia menegaskan, unsur tradisi tetap menjadi prioritas utama dalam setiap karya yang dihasilkan, sementara sentuhan kreativitas diberikan agar produk lebih fleksibel dan diminati berbagai kalangan.
“Adat tetap menjadi dasar utama dalam setiap karya kami. Namun kreativitas juga penting agar produk budaya bisa terus berkembang mengikuti zaman,” katanya.
Di kesempatan yang sama, Koordinator Lapangan kunjungan KICI Padang, Elly Trhisyanti mengaku telah lama mengenal karya-karya Permata Hati Grup dan menyebut dirinya termasuk salah satu sosok awal yang ikut memperkenalkan tingkuluak kreasi tersebut kepada masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung hingga menjelang waktu Maghrib itu ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen memperkuat sinergi perempuan dalam pelestarian budaya Minangkabau.(*)
Komentar