![]() |
| Dirjen Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto didampingi Bupati John Kenedy Azis meninjau kawasan terdampak bencana, telah memulai bercocok tanam padi sawah di Pasia Laweh Lubuak Aluang, Sabtu 16 Mei 2026 (foto.dok.ikp) |
Di tengah hamparan sawah yang sempat porak-poranda dihantam banjir dan longsor, pemerintah pusat datang membawa kepastian: lahan pertanian yang rusak tidak akan dibiarkan menjadi kuburan harapan masyarakat.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto turun langsung meninjau kawasan terdampak bencana di Kabupaten Padang Pariaman, Sabtu pagi (16/5/2036).
Bersama Bupati John Kenedy Azis, ia menyaksikan sendiri kondisi lahan rusak berat di kawasan Asam Pulau Kayu Tanam hingga progres pemulihan sawah di Tanah Taban, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Alung.
Di hadapan petani dan jajaran pemerintah daerah, Hermanto memastikan janji rehabilitasi lahan pertanian pascabencana bukan sekadar slogan birokrasi.
Ia menegaskan target yang sebelumnya disampaikan Menteri Pertanian akhirnya berhasil dituntaskan pada Mei ini. Bahkan, proses pemulihan di Padang Pariaman disebut selesai lebih cepat dari perkiraan.
Tak sedikit petani yang sebelumnya pesimistis kini mulai kembali turun ke sawah. Dari total sekitar 4.000 hektare lahan pertanian terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat, seluruh proses rehabilitasi diklaim telah rampung 100 persen.
Yang lebih menggembirakan, sekitar 95 persen lahan sudah kembali ditanami. Sisa lahan lainnya tinggal menunggu proses tanam oleh petani dalam waktu dekat.
Pemandangan berbeda juga terlihat di sejumlah aliran sungai yang dulu menjadi momok bagi masyarakat. Tanggul pengaman kini berdiri di titik-titik rawan luapan air.
Pemerintah menilai pembangunan pengaman sungai menjadi langkah penting agar sawah warga tidak lagi hanyut diterjang banjir ketika musim hujan datang. “Sekarang sawah masyarakat jauh lebih aman,” ujar Hermanto saat meninjau lokasi.
Sementara itu, John Kenedy Azis menyebut kehadiran Dirjen LIP sebagai suntikan semangat baru bagi petani yang sempat kehilangan harapan setelah bencana meluluhlantakkan lahan mereka.
Ia mengungkapkan, rehabilitasi yang awalnya ditargetkan selesai dalam sebulan justru mampu dituntaskan hanya dalam 23 hari. Menurutnya, percepatan itu lahir dari kerja bersama antara pemerintah pusat, provinsi, daerah hingga kelompok tani di lapangan.
Meski rehabilitasi selesai, pemerintah belum ingin berhenti. Kementerian Pertanian memastikan dukungan lanjutan tetap disiapkan, terutama pembangunan jaringan irigasi tersier agar sawah yang sudah pulih tidak kembali kesulitan air.
Di tengah luka panjang akibat banjir dan longsor, kabar ini menjadi penanda bahwa denyut pertanian di Padang Pariaman belum mati. Dan petani akhirnya, bisa kembali menatap musim tanam dengan keyakinan baru.(saco).
Komentar