Oleh: Anton Saputra (Wartawan Madya Sertifikasi Dewan Pers)
GEMURUH sorak penonton membahana di dalam bangunan bersejarah Bengkel Utama Silo Sawahlunto, Sabtu, 27 Juni 2026. Di bawah langit-langit tinggi yang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu kota tambang ini, sebuah drama olahraga modern baru saja mencapai klimaksnya.
Gelaran Kejuaraan Nasional Wilayah (Kejurnaswil) Shorinji Kempo Antar Kota Se-Sumatera, yang memperebutkan Piala Ketua Umum Perkemi Sumatera Barat, tidak sekadar menyajikan adu teknik dan ketangkasan fisik. Lebih dari itu, ajang ini melahirkan sebuah kisah inspiratif tentang sportivitas, kehormatan, dan persaudaraan sejati di titik tertinggi persaingan.
Momen paling mendebarkan dan sarat emosi itu tersaji pada babak final nomor Randori putri dewasa kelas 50 kilogram. Ketika pembawa acara memanggil nama para finalis, atmosfer di dalam gedung seketika berubah magis. Dua kenshi tangguh yang melangkah ke tengah matras bukanlah orang asing satu sama lain.
Mereka adalah Bripda Yesa Tika Pratiwi, yang turun mewakili Kota Padang, dan Bripda Alifah Syuhada Yuskar, sang pembela panji Kota Solok. Di luar matras, keduanya adalah rekan sejawat, dua srikandi Korps Bhayangkara yang sehari-hari sama-sama mengabdi dan berdinas di Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat.
Takdir kala itu menuntut mereka untuk menanggalkan seragam dinas, mengenakan dogi, dan saling berhadapan demi kehormatan daerah masing-masing. Di baris kepemimpinan laga, berdiri sosok yang tak kalah berwibawa, AKBP Vera Taurensa S.S., M.H. Selaku Pakor Polwan Polda Riau, kehadiran sang perwira menengah ini sebagai wasit utama memberikan penegasan betapa prestisiusnya partai puncak ini.
Kehadiran AKBP Vera atau akrab disapa Senpai Vera di atas matras tidak hanya menjamin keadilan pertandingan, tetapi juga menjadi simbol bimbingan dan pengawasan senior terhadap dua juniornya yang sedang bertarung habis-habisan.
Begitu bel pertama berbunyi, ketegangan langsung memuncak. Persahabatan di barak dan ruang dinas melebur menjadi profesionalisme mutlak. Bripda Yesa dan Bripda Alifah langsung terlibat dalam jual beli serangan yang sengit.
Kombinasi pukulan cepat dan tendangan presisi diperagakan dengan teknik tingkat tinggi. Setiap pergerakan mereka mencerminkan kedisiplinan luar biasa, hasil dari latihan keras berbulan-bulan yang harus dibagi di sela-sela tugas menjaga keamanan negara.
Bripda Yesa Tika Pratiwi tampil agresif dengan memanfaatkan kelincahan gerak langkahnya, sementara Bripda Alifah Syuhada Yuskar bertahan dengan kokoh sembari sesekali melepaskan serangan balik yang tak kalah mengancam. Penonton dibuat menahan napas di setiap detiknya.
Di bawah tatapan tajam dan kepemimpinan tegas AKBP Vera Taurensa, kedua Polwan ini bertarung dengan memegang teguh prinsip dasar kempo: kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman. Tidak ada kecurangan, tidak ada amarah yang personal, yang ada hanyalah determinasi untuk menjadi yang terbaik.
Melalui pertarungan melelahkan yang menguras fisik dan mental, takdir juara akhirnya berpihak pada determinasi Kota Padang. Bripda Yesa Tika Pratiwi berhasil mendaratkan poin-poin krusial yang membuatnya berhak atas raihan medali emas. Di sisi lain, Bripda Alifah Syuhada Yuskar harus puas dengan medali perak, sebuah pencapaian yang tetap luar biasa mengingat ketatnya kompetisi di kelas tersebut.
Namun, keindahan sejati dari olahraga ini justru terpancar sesaat setelah peluit panjang berbunyi. Begitu pertandingan usai, tembok persaingan runtuh dalam seketika. Kedua kenshi Polwan ini langsung saling berpelukan erat di tengah matras, diiringi senyum bangga dari AKBP Vera Taurensa yang menyaksikan momen sarat respek tersebut. Air mata lelah berubah menjadi tawa penghormatan.
Di Bengkel Utama Silo sore itu, medali mungkin telah terbagi, namun bagi Polda Sumbar dan institusi Polri, kedua Polwan ini adalah pemenang sesungguhnya. Mereka telah menunjukkan kepada masyarakat Sumatera Barat bahwa rivalitas dalam meraih prestasi tidak akan pernah mampu merusak kokohnya fondasi persaudaraan dan jiwa korsa Bhayangkara.
Ajang Kejurnaswil Sawahlunto boleh saja usai, tetapi keteladanan tentang sportivitas yang mereka tunjukkan akan terus membekas dan menginspirasi generasi kenshi berikutnya di seluruh penjuru Sumatera. (*_*)
Komentar