![]() |
| CFD di Kampuang Nelayan Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Minggu 30 Agustus 2026 (foto.dok.ikp) |
Katapiang - Bukan hanya keringat yang mengalir di Kampung Nelayan Ketaping, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman, Minggu (30/8/2026). Sejak pagi, ratusan warga tumpah ke ruang publik mengikuti Car Free Day (CFD).
Senam, jalan santai hingga aktivitas warga berpadu dengan geliat UMKM, menjadikan kawasan tersebut bukan sekadar tempat berolahraga, tetapi panggung kecil kehidupan masyarakat yang bergerak bersama.
Di tengah keramaian itu, Bupati John Kenedy Azis, ikut membaur bersama warga. Orang nomor satu di Padang Pariaman tersebut tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan sekaligus menyapa masyarakat tanpa jarak dan sekat birokrasi.
Kehadirannya mendapat sambutan hangat, membuat suasana CFD terasa lebih cair—pemerintah datang bukan hanya untuk melihat dari atas, tetapi ikut merasakan denyut kehidupan masyarakat dari dekat.
Namun denyut CFD ternyata tidak berhenti pada olahraga. Di sepanjang kawasan kegiatan, pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memanfaatkan keramaian untuk menjajakan makanan, minuman, jajanan dan berbagai produk lokal.
Ratusan warga yang datang bukan sekadar peserta CFD, melainkan calon pelanggan. Setiap transaksi menjadi peluang, setiap perkenalan produk menjadi jalan membuka pasar yang lebih luas.
John Kenedy Azis menilai CFD memiliki makna lebih besar daripada sekadar menjaga kebugaran tubuh. Ruang publik semacam ini membuka kesempatan bagi pemerintah untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam suasana santai dan kekeluargaan.
Dari percakapan ringan hingga melihat aktivitas warga secara langsung, pemerintah bisa menangkap dinamika masyarakat yang terkadang tidak terlihat dari balik meja kantor.
Jika digarap konsisten, CFD bahkan dapat menjadi mesin kecil ekonomi kerakyatan. Keramaian yang tercipta memberi ruang bagi UMKM untuk memperkenalkan produk, mendapatkan pelanggan baru dan memperluas jaringan usaha.
Kegiatan publik tidak semestinya hanya dihitung dari banyaknya peserta, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonomi yang ikut tumbuh di belakangnya.
Menariknya, semangat kebersamaan itu tidak berakhir ketika aktivitas olahraga usai. Sejumlah mahasiswa Politeknik Pelayaran (Poltekpel) bersama masyarakat turun melakukan gotong royong membersihkan kawasan Kampung Nelayan Ketaping.
Mereka memungut sampah yang berserakan di sepanjang jalan dan lingkungan sekitar kegiatan. Pesannya sederhana namun keras. Ruang publik yang dipakai bersama harus dirawat bersama pula.
CFD Ketaping akhirnya meninggalkan cerita yang jauh lebih besar dari sekadar agenda Minggu pagi. Olahraga menggerakkan warga, keramaian membuka peluang UMKM, kehadiran pemerintah mencairkan jarak, sementara gotong royong mengembalikan kebersihan lingkungan.
Dari Kampung Nelayan Ketaping, sebuah kegiatan sederhana menunjukkan bahwa ketika masyarakat dan pemerintah bergerak dalam satu irama, ruang publik bisa berubah menjadi titik temu kesehatan, ekonomi, kepedulian dan kekuatan sosial warga.(saco).

Komentar