![]() |
| Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Bukit Solok Bio-bio, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Kamis (13/8/2026) sore. |
Limapuluh Kota, fajarsumbar.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Bukit Solok Bio-bio, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Kamis (13/8/2026) sore. Api membakar kawasan perbukitan dan sempat terlihat jelas dari kejauhan hingga videonya beredar di media sosial.
Kebakaran terjadi di bagian tebing bukit yang lokasinya berada tidak jauh dari permukiman warga. Kondisi tersebut membuat petugas harus bergerak cepat agar kobaran api tidak merambat ke bagian bawah bukit dan mengancam rumah-rumah penduduk.
Kepala Dinas Kehutanan Sumbar Ferdinal Asmin mengatakan tim gabungan langsung diterjunkan setelah menerima informasi kebakaran. Brigade Pengendalian Karhutla bersama BPBD dan Damkar Kabupaten Limapuluh Kota menuju lokasi untuk melakukan pemadaman dan mengendalikan pergerakan api.
Namun, proses pemadaman tidak berlangsung mudah. Petugas menghadapi medan berupa tebing yang curam dan sulit dijangkau. Persoalan lainnya adalah keterbatasan sumber air karena titik kebakaran berada cukup jauh dari lokasi pengambilan air.
"Karena yang terbakar adalah tebing bukit sehingga sedikit menyulitkan tindakan. Kondisi lapangan juga jauh dari sumber air, sehingga petugas harus menunggu suplai air menggunakan mobil damkar," kata Ferdinal.
Upaya petugas akhirnya terbantu oleh hujan yang turun di kawasan Harau. Guyuran hujan dengan intensitas ringan hingga sedang membantu meredakan kobaran api. Berdasarkan laporan terakhir, api sudah tidak terlihat lagi dan kondisi di lokasi relatif terkendali.
Luas kawasan yang terdampak karhutla sementara diperkirakan mencapai sekitar satu hektare. Meski api telah padam, petugas gabungan tetap melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara atau titik api baru yang kembali menyala.
Dinas Kehutanan Sumbar masih mendalami penyebab kebakaran. Salah satu dugaan sementara, api berasal dari aktivitas pembakaran sampah yang kemudian merembet ke kawasan tebing. Namun, dugaan tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan di lapangan.
Karhutla di Bukit Harau terjadi di tengah kondisi udara Sumatera Barat yang dalam beberapa hari terakhir tampak kabur. BMKG sebelumnya mendeteksi sejumlah titik panas di Sumbar, sementara hotspot dalam jumlah lebih besar juga terpantau di sejumlah provinsi tetangga.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar. Pemprov Sumbar bersama Dinas Kehutanan, BPBD, TNI, Polri, KPH dan masyarakat peduli api terus memperkuat pengawasan untuk mencegah karhutla meluas.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api, kepulan asap atau aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu karhutla. Langkah cepat dinilai penting karena api di kawasan perbukitan sulit dijangkau dan dapat dengan cepat meluas ketika kondisi kering serta angin cukup kuat.(ul/Ab)

Komentar