Keltan Kayu Gadang Nagari Cubadak Terapkan Perdana Tanam Padi Program PM-AAS -->

Iklan Atas

Keltan Kayu Gadang Nagari Cubadak Terapkan Perdana Tanam Padi Program PM-AAS

Senin, 10 Agustus 2026

Wali Nagari Cubadak Anggerto saat melakukan tanam padi metode PM-AAS di sawah Keltan Kayu Gadang


Tanah Datar, fajarsumbar.com - Penerapan teknologi Pertanian Modern - Advanced Agricultural System (PM-AAS) mulai diterapkan di Nagari Cubadak, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Senin (10/8) siang. 


Inovasi Kementerian Pertanian (Kementan) berbasis Tanam Benih Langsung (Tabela) ini, diproyeksikan mampu memangkas kebutuhan tenaga kerja hingga lebih dari 90 persen, sekaligus melipatgandakan hasil panen padi lokal.


Aksi tanam perdana tersebut dilaksanakan di Sawah Kayu Gadang, Jorong Cubadak, di atas lahan percontohan seluas 0,1 hektare (1.000 m²). Kegiatan ini menggalang sinergi lintas pihak, mulai dari Kelompok Tani Kayu Gadang, Wali Nagari, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), hingga mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).


Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Nagari Cubadak, Syafni Nengsih, mengungkapkan, bahwa efisiensi tenaga kerja menjadi keunggulan yang dirasakan langsung oleh para petani dalam program strategis nasional ini.


"Dengan sistem tanam PM-AAS kita dapat mengurangi tenaga tanam, yang biasanya dalam 1 hektare kita memakai tenaga tanam 20-25 orang, dengan metode PM-AAS cuma kita memakai 2 orang," ujar Syafni Nengsih di sela-sela kegiatan.


Meski mengusung konsep modernisasi, pelaksanaan di lapangan saat ini masih menghadapi keterbatasan sarana prasarana. Karena belum memiliki alat penanam khusus (drum seeder), para petani menyiasatinya dengan menyebar benih secara manual tanpa mengenyampingkan pilar utama metode Tabela.


"Sekarang, kami belum mempunyai alat drum seeder, kami pakai manual dengan terbar langsung. Bak kata pepatah, 'tak ada rotan, akar pun jadi', itulah yang kami lakukan di Kelompok Tani Kayu Gadang," tegas Syafni.


Dari segi produktivitas, penerapan Tabela PM-AAS dengan mengandalkan varietas unggul diharapkan mampu melompati capaian pola konvensional secara signifikan.


"Kalau hasil atau produksi dari pola konvensional mungkin kita di Cubadak baru 4-5 ton per hektare. Kalau dengan pola PM-AAS mudah-mudahan sesuai dengan arahan pak Mentan mencapai 10 ton per hektare, mudah-mudahan, semoga," ungkap Syafni.


Di samping mengubah pola pikir petani yang terbiasa dengan cara lama, Syafni menambahkan bahwa keberhasilan metode ini sangat bergantung pada disiplin manajemen air macak-macak hingga 15 hari setelah tabur, dengan masa tanam hingga panen berkisar 110 hingga 120 hari.


Sementara itu Wali Nagari Cubadak, Anggerno Perawito sampaikan, menanggapi keterbatasan alat pendukung, Pemerintah Nagari Cubadak menyatakan kesiapannya untuk mengalokasikan bantuan anggaran pembuatan drum seeder, demi mengawal keberlanjutan program modernisasi ini.


"Tentu sesuai arahan PPL kita bahwa ada metode terbaru penanaman padi PM-AAS yang bisa meningkatkan produksi panen dan mengurangi biaya operasional. Mengenai seluruh sarana prasarana membantu, insya Allah nanti kami akan mencoba bekerjasama menanyakan apa-apa saja alat yang dibutuhkan," sampai Angger.


Dukungan senada juga disampaikan Ketua Kelompok Tani Kayu Gadang, Syamsul Hidayat, yang menyambut terbuka setiap terobosan pemerintah demi kesejahteraan petani. "Kami Kelompok Tani Kayu Gadang tentu mendukung seluruh program pemerintah dalam peningkatan hasil pertanian baik itu pola tanaman PM-AAS, Sawah Pokok Murah (SPM), maupun Salibu," pungkasnya. (F12)