Sekda Hendra Aswara : Bencana Datang, Alasan Tak Berguna! -->

Iklan Atas

Sekda Hendra Aswara : Bencana Datang, Alasan Tak Berguna!

Senin, 31 Agustus 2026
Usai Apel Siaga, Sekda Hendra Aswara dan Kalaksa Emri Nurman bersama jajaran BPBD Padang Pariaman di Kantor BPBD, Limpato VII Koto, Senin 31 Agustus 2026 (foto.dok.ikp)

Limpato - Bencana tidak pernah menunggu pemerintah siap. Ketika air bah datang, tanah bergerak, atau kondisi darurat tiba-tiba menghantam, yang dibutuhkan masyarakat hanya satu. Pertolongan yang cepat. 


Oleh sebab itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Padang Pariaman, Hendra Aswara, mengingatkan jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar tidak membangun kesiapsiagaan setelah bencana terjadi.


Pesan keras itu disampaikannya saat memimpin apel siaga di lingkungan BPBD Padang Pariaman, Limpato, VII Koto, pada Senin (31/8/2026).


Hendra tak ingin apel siaga berakhir sebatas barisan, penghormatan dan pidato. Setelah memimpin apel, ia langsung turun memeriksa fasilitas pendukung penanggulangan bencana. 


Peralatan, kendaraan operasional hingga logistik dicek untuk memastikan semuanya benar-benar siap digunakan. Sebab, ketika masyarakat sudah berada dalam situasi genting, tidak ada waktu untuk bertanya peralatan berada di mana atau mengapa kendaraan belum siap bergerak.


“Kesiapsiagaan itu harus dibangun sebelum bencana terjadi. Jangan sampai ketika dibutuhkan, peralatan justru tidak siap,” tegas Hendra.


Ia meminta seluruh sarana ditata dan didata dengan baik agar mudah diakses ketika keadaan darurat datang. Logistik pun harus dipastikan tersedia sehingga kebutuhan dasar warga terdampak dapat segera didistribusikan.


Tetapi kesiapan BPBD bukan sekadar soal gudang penuh peralatan. Di balik setiap operasi penyelamatan, ada disiplin personel yang menjadi penentu.


Hendra menegaskan disiplin harus menjadi budaya kerja, bukan sekadar kewajiban datang tepat waktu atau mengisi daftar kehadiran. Setiap personel harus memahami tugas, bertanggung jawab dan mampu bergerak cepat ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.


“Disiplin harus menjadi budaya dalam bekerja. Apalagi BPBD memiliki tugas yang sangat penting, karena harus selalu siap ketika masyarakat membutuhkan pertolongan,” ujarnya. 


Kecepatan, kata Hendra, menjadi faktor penting dalam penanganan bencana. Tidak boleh ada personel yang gagap terhadap tugasnya sendiri, ketika situasi darurat benar-benar terjadi.


Ancaman bencana juga tidak bisa dihadapi sendirian. Sekda Hendra meminta koordinasi diperkuat, mulai dari internal BPBD hingga perangkat daerah, pemerintah kecamatan, nagari dan unsur terkait lainnya.


"Semua harus bergerak dalam satu komando dan memahami perannya. Jangan sampai ketika warga membutuhkan pertolongan, energi justru habis karena koordinasi yang lamban dan komunikasi yang tersendat" tegasnya. 


Apel siaga itu akhirnya menjadi pengingat keras bahwa kesiapan pemerintah akan diuji bukan saat suasana masih tenang, tetapi ketika keadaan berubah kacau.


“Kita tidak tahu kapan bencana terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan ketika bencana datang, kita sudah siap menghadapinya,” kata Hendra.


Ia berharap kesiapsiagaan tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi budaya kerja yang membuat BPBD mampu berada satu langkah lebih cepat dari bencana. Ketika keselamatan masyarakat dipertaruhkan, keterlambatan bukan sekadar kesalahan. Tetapi bisa menjadi harga yang terlalu mahal.(saco).