Oleh: Duski Samad
Padang - Gagasan Wali Kota Padang Fadly Amran yang menargetkan sekolah-sekolah di Kota Padang menuju sekolah global atau internasional dan sekolah digital patut diapresiasi sebagai visi pendidikan menghadapi perubahan zaman.
Artificial intelligence (AI), internet, big data, dan platform digital telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan memperoleh pengetahuan. Anak-anak yang sekarang berada di sekolah akan hidup dalam dunia yang berbeda dari generasi orang tua dan gurunya.
Namun, transformasi pendidikan tidak cukup berhenti pada teknologi. Pertanyaan yang lebih mendasar. Manusia seperti apa yang hendak dihasilkan oleh sekolah global dan digital?
Pertanyaan ini penting ketika dunia pendidikan juga berhadapan dengan tawuran pelajar, narkoba, perundungan, kekerasan, pornografi digital, kecanduan gawai, lemahnya pengasuhan keluarga, serta berbagai perilaku berisiko pada anak dan remaja.
Tantangan pendidikan bersifat ganda. Menyiapkan generasi menghadapi masa depan sekaligus memperkuat karakter mereka pada masa kini.
Tantangan Digital dan Karakter.
Digitalisasi pendidikan adalah keniscayaan. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Melalui AI dan internet, peserta didik dapat memperoleh penjelasan tentang hampir semua bidang ilmu dalam hitungan detik.
Sekolah digital tidak cukup dimaknai sebagai penyediaan internet, komputer, smart board, atau buku elektronik. Transformasi digital harus mengubah cara berpikir, belajar, mengajar, dan mengelola pengetahuan.
Teknologi sekaligus membawa paradoks. Perangkat yang membuka akses terhadap ilmu pengetahuan juga membuka pintu bagi hoaks, pornografi, perjudian daring, kekerasan, konsumerisme, dan berbagai konten destruktif. AI bahkan dapat digunakan untuk menyelesaikan tugas tanpa proses membaca dan berpikir yang memadai.
Di sinilah karakter menjadi semakin penting. Kejujuran, disiplin, tanggung jawab, empati, kesantunan, kerja keras, dan kemampuan mengendalikan diri merupakan kompetensi penting di era digital.
Teknologi memberikan kekuatan, tetapi karakter menentukan ke mana kekuatan itu diarahkan.
Tawuran dan Krisis Narkoba.
Tawuran pelajar tidak cukup dipahami sebagai kenakalan beberapa remaja. Ia merupakan alarm adanya persoalan pengendalian diri, pencarian identitas, solidaritas kelompok yang salah arah, dan lemahnya kemampuan menyelesaikan konflik.
Penanganannya tidak cukup dengan razia dan hukuman setelah kejadian. Anak membutuhkan olahraga, organisasi, seni, kegiatan keagamaan, pengabdian sosial, konseling, dan ruang kreativitas. Mereka membutuhkan lingkungan yang memberi kesempatan untuk memperoleh pengakuan melalui prestasi dan kebaikan, bukan kekerasan.
Demikian pula ancaman narkoba. Pencegahan tidak cukup dengan poster dan seminar. Yang harus dibangun adalah ketahanan diri generasi muda. Ketahanan tersebut tumbuh dari keluarga yang peduli, sekolah yang ramah, pergaulan yang sehat, aktivitas yang bermakna, dan fondasi spiritual yang kuat.
Kita tidak cukup bertanya mengapa anak terlibat tawuran atau narkoba. Kita juga harus bertanya. Ruang positif apa yang telah kita sediakan bagi mereka?
Krisis Pengasuhan Orang Tua.
Sekolah tidak pernah menerima anak dari ruang kosong. Anak membawa kebiasaan, nilai, pengalaman, dan kondisi emosional yang dibentuk dalam keluarga. Membicarakan pendidikan tanpa membicarakan pengasuhan orang tua akan menghasilkan analisis yang tidak lengkap.
Kesibukan ekonomi dan penetrasi teknologi telah mengubah komunikasi keluarga. Ada orang tua yang mampu memenuhi hampir seluruh kebutuhan material anak, tetapi memiliki waktu terbatas untuk mendengar persoalannya.
Bahkan muncul paradoks keluarga digital. Tinggal serumah, tetapi hidup dalam layar masing-masing.
Pengasuhan tidak cukup dengan membayar uang sekolah, menyediakan telepon pintar, kendaraan, dan uang saku. Anak membutuhkan kehadiran psikologis orang tua. Mereka perlu didengar, diarahkan, diberi batas, diawasi secara proporsional, dan memperoleh keteladanan.
Sekolah tidak dapat menggantikan keluarga. Keluarga pun tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada sekolah.
Sekolah Global Jangan Kehilangan Akar.
Sekolah global harus dipahami secara substantif. Global berarti peserta didik mempunyai kemampuan literasi, bahasa, sains, matematika, teknologi, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Namun, globalisasi tidak berarti kehilangan identitas.
Anak Minangkabau harus mampu berinteraksi dengan dunia tanpa tercerabut dari agama dan budayanya. Ia dapat menguasai bahasa asing dan AI, tetapi tetap mengenal adat, keluarga, kaum, surau, dan nagarinya.
Dalam konteks Sumatera Barat, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) harus memperoleh bentuk nyata dalam pendidikan. Orientasinya adalah membentuk generasi yang global dalam wawasan, digital dalam kecakapan, Minangkabau dalam identitas, dan Islam dalam nilai.
Pragmatisme Guru dan Politik Tim Sukses.
Transformasi pendidikan juga membutuhkan introspeksi terhadap profesionalisme guru. Guru adalah profesi ilmu sekaligus profesi moral. Orientasinya tidak semestinya berhenti pada jam mengajar, tunjangan, sertifikasi, pangkat, dan jabatan.
Administrasi diperlukan, tetapi pendidikan kehilangan ruh ketika administrasi berubah menjadi tujuan.
Lebih serius lagi jika pendidikan terseret ke dalam politik praktis dan budaya tim sukses. Promosi kepala sekolah, mutasi, jabatan, dan kesempatan profesional harus berdasarkan meritokrasi. Jangan sampai berkembang persepsi bahwa kedekatan politik lebih menentukan daripada kompetensi, prestasi, pengabdian, dan integritas.
Sekolah berstandar global membutuhkan tata kelola yang juga profesional: objektif, transparan, berintegritas, dan berbasis prestasi.
Materialisme dan Guru sebagai Teladan
Kesejahteraan guru adalah keharusan. Guru berhak mendapatkan kehidupan yang layak. Namun kesejahteraan berbeda dengan materialisme.
Persoalan muncul ketika ukuran keberhasilan guru bergeser kepada jabatan, kendaraan, rumah, gawai, perjalanan, dan simbol konsumsi. Peserta didik tidak hanya mendengarkan perkataan guru. Mereka memperhatikan kehidupan gurunya.
Guru yang mengajarkan kesederhanaan tetapi mempertontonkan konsumsi berlebihan menghadirkan pesan yang kontradiktif. Guru yang mengajarkan integritas tetapi mengejar jabatan dengan segala cara sedang memberikan hidden curriculum yang jauh lebih kuat daripada ceramah.
Di era AI, justru keteladanan inilah yang tidak mudah digantikan teknologi. AI dapat menjelaskan rumus dan menyusun tulisan, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan manusia yang menjadi teladan.
Guru adalah kurikulum hidup.
Guru yang disiplin mengajarkan disiplin. Guru yang jujur mengajarkan kejujuran. Guru yang adil mengajarkan keadilan. Guru yang terus belajar mengajarkan kerendahan hati intelektual.
Smart Surau sebagai Solusi Kolaboratif
Sekolah tidak mungkin bekerja sendiri. Keluarga juga mempunyai keterbatasan. Di sinilah Program Unggulan Smart Surau Kota Padang dapat mengambil posisi strategis.
Smart Surau jangan dipahami sekadar memindahkan anak dari rumah ke masjid setelah sekolah. Program ini perlu dikembangkan sebagai ekosistem pendidikan karakter berbasis komunitas.
Di surau, anak dapat mengaji Al-Qur'an, memperbaiki ibadah, belajar adab dan adat Minangkabau, memperoleh literasi digital sehat, pembinaan remaja, kegiatan sosial, serta ruang kreativitas.
Smart Surau dapat menjadi salah satu instrumen preventif terhadap tawuran, narkoba, perundungan, kecanduan gawai, dan perilaku berisiko.
Surau tentu bukan obat tunggal bagi semua masalah, tetapi ia menyediakan hal yang sangat dibutuhkan generasi muda. Guru pembimbing, komunitas sehat, keteladanan, aktivitas positif, dan rasa memiliki.
Maka harus dibangun konektivitas sekolah, keluarga dan surau. Sekolah memperkuat kompetensi. Keluarga menguatkan pengasuhan. Surau memperkuat spiritualitas, adab, dan kehidupan sosial.
Global, Digital, Smart Surau dan Profetik
Momentum kepengurusan baru PGRI Kota Padang harus menjadi kesempatan memperkuat marwah profesi guru. Jika pemerintah mengusung sekolah global dan digital, PGRI dapat memperkuatnya melalui gerakan guru profesional, berintegritas, independen dari politik praktis, adaptif terhadap teknologi, dan menjadi teladan karakter.
Transformasi pendidikan Kota Padang akhirnya dapat dibangun melalui empat kekuatan:
SEKOLAH GLOBAL - SEKOLAH DIGITAL - SMART SURAU - KELUARGA BERDAYA.
Global menjawab luasnya wawasan. Digital menjawab kecakapan teknologi. Karakter menjawab manusia seperti apa yang sedang dibentuk. Sedangkan profetik menjawab pertanyaan paling penting. Untuk apa ilmu dan teknologi digunakan?
Tawuran mengingatkan bahwa prestasi akademik tanpa kematangan emosi tidak cukup. Narkoba menunjukkan pentingnya ketahanan diri. Krisis pengasuhan membuktikan sekolah tidak dapat menggantikan keluarga.
Era AI menunjukkan teknologi tanpa integritas dapat melahirkan persoalan baru. Smart Surau mengingatkan bahwa masyarakat Minangkabau memiliki modal sosial, agama, dan budaya untuk memperkuat pendidikan.
Ukuran akhir keberhasilan bukan berapa sekolah yang berlabel global atau berapa kelas yang telah digital, tetapi manusia seperti apa yang keluar dari proses pendidikan itu.
Kota Padang membutuhkan generasi yang cerdas sekaligus beradab, menguasai teknologi tanpa diperbudak teknologi, modern tanpa kehilangan identitas, serta mampu mendunia tanpa kehilangan jalan pulang kepada keluarga, surau, adat, dan nilai ketuhanan.
Sekolahnya global, pembelajarannya digital, gurunya profesional, keluarganya kuat, suraunya hidup, dan generasinya berkarakter. (*saco).

Komentar