![]() |
| Tim GSI Padang Pariaman mengikuti Kejuaraan GSI Tingkat Sumbar di Padang |
Padang - Satu gol dari Kota Pariaman sempat membuat langkah Tim Gala Siswa Indonesia (GSI) Kabupaten Padang Pariaman terjegal di laga pembuka. Skor 0-1 menjadi tamparan awal bagi skuad muda asuhan Abu Naim. Tetapi kekalahan itu justru menjadi titik balik.
Dalam dua pertandingan berikutnya, Padang Pariaman bangkit dengan dua kemenangan dan mengunci tiket semifinal GSI Tingkat Provinsi Sumatera Barat 2026.
Perjuangan itu berlangsung di Lapangan PPLP Sumatera Barat, Sungai Sapih, Kota Padang, 26–27 Agustus 2026.
Tujuh tim kabupaten dan kota ambil bagian dalam kompetisi tersebut dan dibagi ke dalam dua pool. Padang Pariaman berada di Pool A bersama Kota Pariaman, Kota Padang Panjang, dan Kabupaten Lima Puluh Kota.
Tak ada waktu untuk larut dalam kekecewaan. Setelah kalah pada laga perdana Rabu (26/8/2026), para pemain langsung dipaksa menghadapi situasi sulit: menang atau tersingkir dari persaingan.
Respons mereka justru menunjukkan mental petarung. Skuad Padang Pariaman berhasil bangkit dan meraih kemenangan atas Kabupaten Lima Puluh Kota.
Belum berhenti di sana, performa mereka kembali berbuah hasil saat menghadapi Kota Padang Panjang pada pertandingan lanjutan hingga Kamis (27/8/2026) pagi.
Dua kemenangan beruntun itu menjadi modal penting sekaligus mengangkat posisi Padang Pariaman sebagai salah satu tim terbaik di fase penyisihan. Kekalahan di awal pun berubah menjadi cerita kebangkitan.
GSI merupakan ajang pembinaan talenta sepak bola bagi peserta didik jenjang SMP yang dilaksanakan secara berjenjang, mulai tingkat daerah, provinsi hingga nasional.
Bagi para pemain muda Padang Pariaman, kompetisi ini bukan hanya tentang mencetak gol dan mengejar kemenangan, tetapi juga kesempatan membuktikan bahwa talenta sepak bola daerah mampu bersaing di level provinsi.
Semifinal kini menjadi panggung baru. Padang Pariaman dijadwalkan kembali bertanding Kamis (27/8/2026) sore di Lapangan PPLP Sumatera Barat. Lawan yang lebih berat menanti, sementara margin kesalahan semakin tipis.
Satu kemenangan akan membuka pintu menuju final, sedangkan satu kesalahan bisa mengakhiri perjalanan yang sudah dibangun dengan susah payah.
Dukungan masyarakat Padang Pariaman pun menjadi energi tambahan bagi para pemain. Mereka telah menunjukkan satu hal penting: kekalahan bukan akhir dari perjuangan. Dari tertinggal mereka bangkit, dari tekanan mereka menemukan keberanian.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah mereka mampu lolos dari fase grup, tetapi seberapa jauh anak-anak muda Padang Pariaman berani bermimpi. Semifinal, final, atau bahkan membawa pulang gelar juara?(saco).

Komentar