![]() |
| Kepala Satuan Pelaksana (Kalaksa) BPBD Padang Pariaman, Emri Nurman berikan pengarahan dalam Sosialisasi untuk pekerjaan Huntap di Kantor Camat Kayu Tanam, Senin 7 September 2026. (foto.doc.saco) |
Padang Pariaman - Empat puluh tujuh keluarga kini menggantungkan harapan pada satu kata. Yakni Huntap. Bukan rumah mewah, bukan pula janji muluk. Mereka hanya menunggu tempat tinggal yang layak, aman, dan nyaman. Pertanyaannya, mampukah janji pembangunan itu segera berubah menjadi rumah nyata yang bisa dihuni?
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman mulai menggerakkan pembangunan Hunian Tetap (Huntap) bagi warga di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam. Sebanyak 47 calon penerima telah mengikuti sosialisasi.
Tahapan ini menjadi pintu awal menuju hunian yang diharapkan mampu memberi kembali rasa aman kepada keluarga yang membutuhkan tempat tinggal lebih layak.
Angkanya memang hanya 47. Namun di balik angka itu ada puluhan keluarga, anak-anak, orang tua, dan kehidupan yang menunggu kepastian.
Huntap tak boleh berhenti sebagai angka capaian pembangunan atau sekadar seremoni di atas kertas. Rumah baru harus benar-benar berdiri dan bisa ditempati oleh mereka yang namanya tercatat sebagai penerima.
Komposisinya cukup jelas. Sebanyak 39 calon penerima berasal dari Nagari Anduriang, empat dari Nagari Guguak, tiga dari Nagari Kayu Tanam, dan satu dari Nagari Sicincin.
Mereka menjadi wajah dari program yang membawa pesan besar. Masyarakat yang membutuhkan hunian aman tidak boleh terus dibiarkan menunggu tanpa kepastian.
Kepala Satuan Pelaksana (Kalaksa) BPBD Padang Pariaman, Emri Nurman, saat dihubungi Wartawan fajarsumbar.com, Selasa (8/9/2026) pagi, mengakui bahwa sosialisasi pembangunan telah dilakukan kepada para calon penerima.
Langkah ini penting untuk membuka pemahaman mengenai proses pembangunan sekaligus memastikan hunian yang dibangun sesuai kebutuhan masyarakat.
Yang membuat proyek ini menarik perhatian, pembangunan Huntap melibatkan Semen Padang dengan teknologi Sepablok. Teknologi boleh modern, konsep boleh menjanjikan percepatan.
Tetapi ujian sebenarnya bukan pada seberapa hebat teknologi yang digunakan, melainkan seberapa cepat 47 keluarga itu bisa benar-benar menempati rumahnya.
Kini bola berada di tangan pemerintah dan pihak pelaksana. Harapan sudah disampaikan, calon penerima sudah disosialisasikan, teknologi sudah disiapkan.
Tinggal satu yang ditunggu. Rumahnya benar-benar jadi. Sebab bagi 47 keluarga tersebut, Huntap bukan proyek biasa.
Ini tentang tempat pulang, rasa aman, dan kesempatan untuk kembali menata hidup. Jangan sampai kabar baik hari ini berhenti menjadi headline, sementara warga masih menunggu kunci rumahnya.(saco).
Komentar