Oleh: Anton Saputra (Wartawan Madya Sertifikasi Dewan Pers)
G Sport Center Gunung Pangilun siang itu mendadak hening dari sorak-sorai. Di tengah pengapnya udara arena Porprov XVI Sumatera Barat, Rabu, 7 Oktober 2026, tepat pukul 14.30 WIB, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun melangkah ke tengah matras dengan dada yang sesak oleh duka. Juan Bachdim, atlet kadet kelas 51 kg utusan Kota Sawahlunto, berdiri menatap lawannya dari Kabupaten Padang Pariaman. Tidak ada yang tahu, di balik tatapan matanya yang tajam, ada air mata yang ditahan sekuat tenaga.
Tak sampai satu menit, Juan melumpuhkan lawannya. Gemuruh tepuk tangan pecah saat wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Emas kesembilan untuk Kota Sawahlunto resmi ia genggam. Sebuah kepingan sejarah yang maha penting, sebab inilah medali emas pertama bagi cabang olahraga gulat Sawahlunto sejak dibentuk dua dekade lalu.
Sebuah impian yang diperjuangkan tanpa lelah oleh Pembina PGSI Sawahlunto, Hendri Thalib, sosok senior yang rela bertolak jauh dari Nagari Gaduik, Tilatang Kamang, Agam, demi menyaksikan anak-anak binaannya bertarung di ajang olahraga terbesar Sumbar ini.
Namun, ketika selebrasi salto Juan usai dan teriakan histeris para pelatih serta pengurus KONI mereda, takdir menagih duka yang sempat tertunda. Sebuah layar ponsel menyala. Sambungan video call yang terhubung dari kampung halaman seketika merobek pertahanan jiwa remaja tersebut.
Di balik layar, Juan melihat tubuh ayahandanya yang terbujur kaku, siap dimasukkan ke liang lahad. Tangis Juan pecah sejadi-jadinya. Isak yang tersengal-sengal membuat kantin G Sport Center mendadak bisu dan pilu.
Kabar duka itu sebenarnya telah datang sejak Selasa malam, sekira pukul 21.30 WIB. Sang ayah menghembuskan napas terakhirnya tepat sebelum azan asar berkumandang pada pukul 15.30 WIB. Sebelum berpulang, sang ayah sempat berpesan agar kabar meninggalnya disembunyikan agar tak memecah fokus Juan. Namun, sang abang akhirnya memberitahu Juan malam itu. Di tengah hancurnya hati, siswa PPLP Sumbar ini memilih bertahan. Ia mengingat pesan terakhir ayahnya sebelum berangkat: "Fokus berjuang, berikan yang terbaik untuk keluarga dan kota tercinta."
Dengan napas tersendak duka, Juan menuntaskan laga semifinal melawan Dharmasraya dalam hitungan detik di hadapan Ketua KONI Sawahlunto, H. Jhon Reflita, lalu memenangi laga final dengan gemilang. Ia mempersembahkan emas itu untuk sosok yang kini telah tiada.
Melihat ketabahan luar biasa itu, Herlambang, Dewan Wasit Internasional dari PB PGSI, menyambangi Juan yang terisak. Sambil merangkul pundak sang juara muda, ia membisikkan pesan mendalam agar Juan terus memelihara api semangatnya hingga menjadi juara dunia.
Guna memberi kesempatan Juan mengantarkan sang ayah, upacara pengalungan medali sengaja dipercepat. Di atas podium, Ketua KONI Sawahlunto, H. Jhon Reflita, mengalungkan emas dengan mata berkaca-kaca. Digerakkan oleh rasa haru, H. Jhon Reflita menyerahkan bonus pribadi dan mengumumkan komitmennya untuk menanggung seluruh biaya adik Juan, Bintang (10), agar kelak bisa menimba ilmu di PPLP Sumbar mengikuti jejak sang kakak.
Medali emas kini melingkar di leher Juan. Didampingi Bintang dan sang pelatih, Robi Andoni, Juan melangkah tergesa meninggalkan arena, bertolak menuju Sawahlunto. Bukan untuk merayakan kemenangan dengan pesta, melainkan untuk bersujud di atas tanah basah pusara sang ayah, menyapa sosok yang telah pergi dengan membawa sebuah piala kemenangan yang dibayar dengan air mata. (***)
Komentar

