![]() |
| Empat Tokoh Desainer Nasional berikan bimbingan dan motivasi kepada perempuan Pengrajin Sulaman Kapalo Samek, Pasia Baru, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau, Sabtu, 12 September 2026 |
Pariaman - Selama bertahun-tahun, tangan-tangan perempuan di Pasia Baru bekerja dalam senyap. Merajut benang demi benang menjadi Sulaman Kapalo Samek yang diwariskan lintas generasi.
Kini, karya yang lahir dari ketekunan itu tak lagi ingin dibiarkan berhenti sebagai kerajinan tradisional di kampung sendiri. Pemerintah Padang Pariaman mulai mengerek Sulaman Kapalo Samek menjadi produk unggulan daerah. Bernilai ekonomi tinggi. Beridentitas kuat. Berani menantang pasar nasional hingga internasional.
Perubahan arah itu ditandai melalui Diseminasi dan Pelatihan Pengembangan Desain dan Inovasi Produk UMKM Sulaman Kapalo Samek Berbasis Kearifan Lokal yang berlangsung selama empat hari di Gedung Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, Karan Aur, Kota Pariaman, Sabtu (13/9/2026).
Sebanyak 20 pengrajin dari Korong Pasia Baru, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau, yang merupakan salah satu sentra Sulaman Kapalo Samek. Mereka digembleng bukan hanya untuk semakin mahir menyulam, tetapi juga untuk mengubah cara pandang. Yakni dari sekadar membuat produk menjadi menciptakan karya yang mampu bersaing.
Yang membuat langkah ini berbeda, para pengrajin tidak belajar dari ruang yang terisolasi dari perkembangan industri kreatif. Mereka berhadapan langsung dengan nama-nama berpengalaman di dunia mode, desain, tekstil, wastra, kriya, dan pengembangan produk berbasis budaya.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Nasionsl. Seperti Sjamsidar Isa atau Ibu Tjammy; Didi Budiardjo; Dr. Suyin Pramono, S.Sn., M.Ds; Muhammad Rianto Utama atau Tommy Utama; dan RR Koesoemaningsih.
Ketua TP PKK Padang Pariaman, Ny.Nita Christanti Azis, menyatakan persoalannya bukan semata menjaga agar teknik menyulam tidak hilang. Tantangan sesungguhnya, memastikan warisan tersebut mampu hidup di tengah perubahan zaman. Dan memberi penghidupan lebih baik bagi para pengrajinnya.
“Sulaman Kapalo Samek bukan sekadar kerajinan, tetapi warisan budaya yang harus terus kita hidupkan dan kembangkan bersama,” ujarnya.
Kearifan lokal tidak boleh menjadi alasan sebuah produk terperangkap dalam bentuk lama. Identitas harus dipertahankan. Tetapi desain, inovasi, kualitas, kemasan, dan strategi pasar harus berani bergerak.
Di sinilah Sulaman Kapalo Samek menyimpan kekuatan yang tidak kecil. Teknik tusukan benang yang menghasilkan tonjolan kecil berbentuk lonjong menyerupai kepala peniti. Ini menjadi ciri khas yang membedakannya dari sulaman lain. Motif yang terinspirasi flora, alam dan filosofi budaya Minangkabau memperkuat karakter tersebut.
Di Pasia Baru, Nagari Pilubang itu keterampilan ini diwariskan turun-temurun melalui tangan para penyulam. Namun, pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah tradisi ini bisa bertahan. Melainkan seberapa jauh tradisi itu, mampu mengubah nilai budaya menjadi nilai ekonomi tanpa kehilangan jati dirinya.
Pemerintah Padang Pariaman bahkan mendorong langkah yang lebih serius melalui perlindungan Kekayaan Intelektual, khususnya Indikasi Geografis.
Upaya tersebut dinilai penting. Karena reputasi Sulaman Kapalo Samek memiliki hubungan erat dengan wilayah Pasia Baru, teknik manual, keterampilan antargenerasi, karakter motif, serta lingkungan sosial budaya masyarakatnya.
Jika perlindungan tersebut terwujud, nama dan reputasi Sulaman Kapalo Samek Pasia Baru akan memiliki pijakan hukum yang lebih kuat. Sekaligus membuka ruang untuk menjaga standar mutu, keaslian, identitas dan nilai tambah produk bagi pengrajin.
Dari sinilah pertarungan baru dimulai. Pasia Baru Pilubang tidak boleh hanya menjadi tempat lahirnya sulaman. Pasia Baru harus menjadi nama yang dikenali ketika orang berbicara tentang kualitas wastra Minangkabau.
Pelatihan empat hari itu menjadi pemantik untuk membangun ekosistem yang menghubungkan tradisi, desain, inovasi, perlindungan kekayaan intelektual dan pasar.
Targetnya jelas terukur. Sulaman Kapalo Samek tidak berhenti di Padang Pariaman. Tetapi bergerak menuju Jakarta, pasar nasional, bahkan dunia.
Dari tangan-tangan perempuan Pasia Baru, warisan lama sedang bergerak memasuki panggung baru. Bukan untuk meninggalkan masa lalu, melainkan untuk membuktikan bahwa tradisi pun bisa bernilai tinggi dan berdiri sejajar di pasar global.(saco).
Komentar