![]() |
| foto Ustad bersama istri dan anak-anaknya |
Oleh: Defni KP. S.AP
Kab,Solok, Fajarsumbar.com-Peristiwa bencana galodo yang melanda Kabupaten Solok pada Senin malam, 21 September 2026, menyisakan kisah tentang kepasrahan dan keteguhan. Salah satunya dialami Ustaz Erianto (31), imam Masjid Raya Ikhlas Arrahman, Kayu Aro, yang saat kejadian tengah menunaikan salat berjamaah bersama sekitar 15 orang jamaah.
Ustaz Erianto telah lebih kurang 10 tahun menjadi imam di masjid tersebut. Malam itu, suasana ibadah berubah seketika, terdengar dentuman dan getaran panjang dari luar masjid. Ia segera menyadari bahwa suara tersebut berbeda dari gempa bumi yang pernah dirasakan sebelumnya.
![]() |
| Ustad Erianto di tengah bebatuan galodo saat melihat kondisi pasca bencana |
“Kalau gempa kan bergoyang. Waktu itu dentuman atau getarannya lama, seperti mobil besar bermuatan berat berjalan. Dari situ saya sudah merasa ini bukan gempa,” ujar Erianto saat menceritakan kembali kejadian tersebut.
Pikiran Erianto kemudian tertuju pada kemungkinan datangnya air dalam jumlah besar atau galodo. Namun, di tengah salat, ia memilih tetap melanjutkan ibadah. Menurutnya, membatalkan salat untuk berlari keluar masjid saat itu justru tidak serta-merta membuatnya lebih selamat.
“Yang terlintas, ini pasti air besar atau galodo. Kalau saya batalkan salat dan lari, sama saja seperti bunuh diri. Jadi saya pasrah, tawakal saja. Saya lanjutkan salat,” katanya.
![]() |
| Ustad Erianto saat mengar anak-anak mengaji pakai topi Haji |
Dari sekitar 15 jamaah yang berada di dalam masjid, berdasarkan keterangan yang diterimanya, hanya tiga orang yang diketahui tetap menyelesaikan salat hingga akhir. Setelah salat selesai, air telah masuk hingga sekitar separuh bagian masjid.
Namun, kondisi di dalam masjid masih membuat Erianto merasa relatif aman. Air yang masuk belum bercampur lumpur dan material besar seperti yang terlihat di luar. Dari dalam masjid, ia melihat batu-batu berukuran besar serta kayu-kayu terbawa arus, sementara air perlahan mulai menyusut.
Saat hantaman air mulai berhenti, Erianto baru kembali teringat kepada istri dan ketiga anaknya. Setelah memastikan anak-anaknya selesai salat, ia bersama keluarga kemudian berkumpul dengan jamaah lainnya di dalam masjid.
Ketika itu, posisi mereka masih terkepung air. Sejumlah jamaah kemudian mengarahkan agar semua orang menuju lantai dua masjid karena dianggap lebih aman. Mereka naik melalui bagian tempat penyimpanan sepatu dan sandal, lalu memanjat dari sisi masjid menuju lantai atas.
Sekitar satu jam mereka terjebak di lantai dua. Dalam kondisi gelap dan penuh ketidakpastian, suara teriakan minta tolong terdengar dari luar. Sejumlah orang bahkan memanggil namanya sebagai imam dan meminta pertolongan.
“Terdengar orang berteriak, ‘Tolong Pak Imam, tolong Ustaz.’ Posisi sudah tidak bisa menolong. Kalau menolong orang saja bisa bunuh diri, mau bagaimana lagi? Saya hanya bisa membantu dengan doa,” tutur Erianto.
Di tengah kepungan air dan material galodo, Erianto bersama istri, Indri Novariza Putri (28), dan ketiga anak mereka akhirnya bertahan di lantai dua masjid. Ketiga anaknya yakni Ahmad Habib Mustofa (6), Ahmad Fauzan Azima (3), dan Ahmad Yasin Alfadani yang masih berusia 11 bulan. Malam itu, Masjid Raya Ikhlas Arrahman bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga tempat mereka menggantungkan keselamatan ketika arus galodo menerjang Kayu Aro.
Komentar

