![]() |
| Gubernur Sumbar H. Mahyeldi saat diwawancarai wartawan. (dok.kompas.com) |
Padang, fajarsumbar.com - Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi mengambil langkah tegas menyikapi dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa dan guru di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.
Mahyeldi memerintahkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi pemasok makanan MBG tersebut untuk ditutup sementara. Keputusan itu diambil setelah sebanyak 237 siswa dan guru dilaporkan mengalami sejumlah gejala kesehatan usai menyantap menu MBG yang dibagikan, Selasa (1/9/2026).
“Dapurnya ditutup. Harus ditutup, diamankan dulu, kemudian diperiksa, baru nanti dilanjutkan,” tegas Mahyeldi, Rabu (2/9/2026).
Menurut Mahyeldi, penutupan SPPG dilakukan bukan sekadar sebagai bentuk penghentian operasional, tetapi juga untuk memastikan proses pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh. Dapur dan berbagai bahan makanan yang digunakan harus diamankan agar tidak mengganggu proses investigasi.
Ia meminta Dinas Kesehatan bersama pihak terkait segera melakukan pemeriksaan terhadap makanan yang telah dikonsumsi para korban. Sampel makanan juga perlu diuji di laboratorium untuk memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami siswa dan guru. “Ini menjadi evaluasi keras bagi seluruh pengelola dapur MBG di Sumatera Barat,” ujar Mahyeldi.
Data dari Puskesmas Palupuh dan 13 puskesmas pembantu (pustu) mencatat sedikitnya 237 siswa dan guru mengalami keluhan berupa mual, sakit perut hingga pusing setelah menyantap makanan MBG.
Sebagian korban telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan. Namun, jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena terdapat warga yang mengalami gejala tetapi memilih menjalani pengobatan secara mandiri.
Menu MBG yang dibagikan kepada siswa pada Selasa tersebut diketahui terdiri dari nasi, telur puyuh, tahu, tomat, timun, bawang, semangka serta kuah gulai. Pemeriksaan terhadap makanan dan dapur SPPG kini dilakukan untuk mencari titik penyebab dugaan keracunan.
Kepala SPPG Palupuh, Wahyu Saputra, mengaku terkejut dengan munculnya laporan siswa mengalami gangguan kesehatan. Ia mengatakan, saat makanan dibagikan pada Selasa, tidak ada laporan mengenai keluhan ataupun dugaan keracunan dari penerima MBG. “Kami juga kaget dengan kejadian hari ini. Saat pembagian MBG, tidak ada laporan keracunan,” kata Wahyu.
Pihak SPPG Palupuh kini berkoordinasi dengan perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan. Hasil pemeriksaan tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penyebab kejadian.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Program MBG Kabupaten Agam, Aryo, belum memberikan keterangan secara rinci terkait insiden tersebut. Ia menyebut masih mengumpulkan data dan informasi dari berbagai pihak untuk memastikan kronologi serta kondisi para korban.
Aryo juga menyampaikan bahwa koordinasi telah dilakukan dengan Koordinator Program Gizi (KPPG) di Riau. Pemerintah daerah bersama pihak pelaksana program kini menunggu hasil pemeriksaan sebagai dasar untuk menentukan langkah selanjutnya.
Langkah penutupan sementara SPPG oleh Gubernur Mahyeldi menjadi sinyal bahwa program MBG harus berjalan dengan standar keamanan pangan yang ketat. Pemerintah tidak ingin program pemenuhan gizi bagi pelajar justru menimbulkan persoalan kesehatan bagi penerima manfaat.
Mahyeldi menegaskan, keselamatan siswa dan guru harus menjadi prioritas. Karena itu, sebelum operasional dapur kembali dilanjutkan, seluruh proses produksi dan distribusi makanan harus dipastikan memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.(Ab)

Komentar