![]() |
| Kelompok masyarakat penggerak jerami jadi energi di Kampuang Paneh Padang Toboh Ulakan mengikuti verifikasi dan validasi secara hybrid oleh Tim ProKlim KLH/BOLH, Senin 28 September 2026 |
Padang Pariaman - Siapa sangka jerami, kotoran sapi hingga halaman rumah bisa menjadi senjata menghadapi perubahan iklim? Dari Korong Kampuang Paneh, Nagari Padang Toboh Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakih, gerakan itu kini dibawa ke level nasional.
Kampuang Paneh masuk dalam 109 lokasi se-Indonesia yang memenuhi kelengkapan administrasi untuk mengikuti verifikasi ProKlim Utama 2026, membuka jalan menuju penilaian untuk memperoleh Trofi ProKlim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH).
Bukan sekadar menanam pohon lalu berfoto. Masyarakat Kampuang Paneh mengubah limbah menjadi sesuatu yang bernilai. Jerami dan kotoran sapi diolah menjadi kompos, sementara kotoran sapi dimanfaatkan melalui biodigester untuk menghasilkan biogas.
Jerami bahkan dikembangkan menjadi bioetanol yang kemudian diarahkan menjadi bahan produk parfum. Energi surya juga mulai dimanfaatkan melalui pembangkit listrik tenaga surya.
Rangkaian inovasi inilah yang menjadi bagian dari aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis potensi lokal.
“Inovasi Cerdas Menuju Nagari Mandiri, Sehat dan Tangguh Iklim” bukan sekadar slogan yang terpampang di atas kertas. Di sektor pertanian, masyarakat mulai mendorong pertanian organik dengan meningkatkan penggunaan bahan organik dan mengurangi pupuk kimia.
Pekarangan rumah pun disulap menjadi ruang produktif untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Dari level rumah tangga hingga kelompok masyarakat, setiap potensi diarahkan untuk menjawab ancaman perubahan iklim sekaligus memperkuat kemandirian.
Namun jalan menuju panggung nasional tidak datang dalam semalam. Kampuang Paneh sebelumnya menjalani verifikasi Tim Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatra Barat pada 13 Agustus 2026 dan kemudian diusulkan untuk memperoleh Trofi ProKlim Utama.
Kini giliran Tim ProKlim KLH/BPLH melakukan verifikasi dan validasi data secara hybrid, Senin (28/9/2026). Ukasema, pemerintah nagari, kecamatan, penyuluh pertanian dan bidan desa turut memaparkan berbagai aksi serta capaian yang telah berjalan di tengah masyarakat.
Ada satu pertaruhan besar di balik proses tersebut. Apakah gerakan menghadapi perubahan iklim bisa bertahan setelah sorotan dan penilaian berakhir?
Kampuang Paneh mencoba menjawabnya dengan menyiapkan dokumen perencanaan ProKlim 2026–2030. Artinya, aksi adaptasi dan mitigasi tidak diposisikan sebagai proyek sesaat untuk mengejar penghargaan, tetapi dirancang menjadi agenda berkelanjutan di tingkat masyarakat.
Bupati John Kenedy Azis didampingi Kepala DLHPKPP Andri Satria Masri menyambut positif masuknya Kampuang Paneh dalam 109 lokasi yang memenuhi kelengkapan administrasi ProKlim Utama.
John Kenedy Azis menilai capaian tersebut membuktikan aksi menghadapi perubahan iklim dapat dimulai dari tingkat masyarakat.
Ia menegaskan, yang lebih penting bukan sekadar penghargaan, melainkan keberlanjutan praktik yang mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat.
Kini semua mata menunggu hasil verifikasi KLH/BPLH. Kampuang Paneh belum dinyatakan sebagai peraih Trofi ProKlim Utama 2026, tetapi sudah berada di antara 109 lokasi yang melangkah ke tahapan verifikasi nasional.
Jika seluruh data dan kinerja memenuhi kriteria, sebuah korong di Padang Pariaman itu berpeluang membawa cerita besar. Yakni melawan perubahan iklim tidak harus dimulai dengan teknologi mahal. Kadang cukup dengan keberanian mengubah limbah menjadi energi, pekarangan menjadi sumber pangan, dan gotong royong menjadi kekuatan.(saco)
Komentar