Longsor Banjir, Membaca Bencana dengan Ilmu dan Iman -->

Iklan Atas

Longsor Banjir, Membaca Bencana dengan Ilmu dan Iman

Jumat, 25 September 2026

Oleh : Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang


Padang - Banjir bandang yang menerjang kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok di Arosuka membawa kerusakan, kerugian, dan duka bagi warga terdampak. Laporan kejadian menyebut peristiwa itu berlangsung pada Senin malam, 21 September 2026. Dan, Selasa, 22 September, adalah hari setelah kejadian.


Di tengah upaya penyelamatan dan pemulihan, pertanyaan yang muncul sangat manusiawi. Mengapa kawasan yang selama ini terasa aman tiba-tiba dilanda bencana? 


Bagi orang yang menyaksikan lokasi, penyebab banjir dan longsor mungkin tidak tampak dengan mata telanjang. Ada pula yang bertanya, meminjam ungkapan dalam lagu Ebiet G. Ade, apakah alam tidak lagi bersahabat dengan kita? 


Pertanyaan itu patut direnungkan. Namun, tidak terlihatnya penyebab di permukaan, bukan berarti sebuah peristiwa tidak memiliki sebab yang dapat diteliti.


Ilmu menyelidiki rangkaian sebab.

Longsor terjadi ketika gaya yang mendorong massa tanah melampaui kemampuan tanah dan batuan untuk menahannya. Kemiringan lereng, sifat batuan, air yang meresap, dan beban di atas lereng dapat saling memengaruhi.


Hujan yang berlangsung deras atau lama dapat membuat tanah jenuh air dan mengurangi kestabilan lereng. Pada keadaan tertentu, material longsoran dapat bercampur dengan aliran air dan bergerak sebagai banjir bandang. 


Cara manusia mengelola lingkungan juga perlu diperiksa. Perubahan tutupan lahan, pemotongan lereng, dan drainase yang tidak berfungsi dapat memperbesar kerentanan.


Akan tetapi, faktor yang berperan dalam peristiwa Arosuka harus ditentukan melalui pemeriksaan lapangan, data hujan, kondisi geologi, alur air, serta riwayat penggunaan lahan. Kita tidak dapat menetapkan penyebab setempat hanya dari kesan sesaat atau foto setelah kejadian. 


Kajian ekologi melihat hubungan antara hujan, tanah, sungai, vegetasi, dan pembangunan. Kajian sosiologi menanyakan siapa yang paling terpapar, siapa yang memperoleh peringatan, serta siapa yang menanggung kerugian paling berat. Ilmu membantu kita bergerak dari rasa heran menuju pemahaman, lalu dari pemahaman menuju pencegahan.


Apa yang diajarkan alkisah para Nabi?

Al-Qur’an memuat kisah kaum-kaum terdahulu yang mengalami kehancuran setelah menolak peringatan para nabi. Kisah Nabi Nuh berkaitan dengan banjir besar (QS Hūd : 40–44). Al-Qur’an juga menceritakan bencana yang menimpa kaum ‘Ad, Ṡamūd, dan kaum Nabi Luṭ.


Bentuk peristiwa dalam setiap kisah berbeda. Pesan profetiknya ialah bahwa kesombongan, kezaliman, dan penolakan terhadap kebenaran mempunyai akibat dalam kehidupan manusia. 


Surah ar-Rūm ayat 41 mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut berkaitan dengan perbuatan tangan manusia. Surah asy-Syūrā ayat 30 mengajak manusia memeriksa akibat perbuatannya, seraya menyebut keluasan ampunan Allah. Ayat-ayat ini memberi dasar bagi muhasabah bersama, termasuk menilai tindakan yang merusak lingkungan atau mengabaikan keselamatan. 


Namun, kisah tentang hukuman kepada suatu kaum dalam wahyu tidak memberi kita kewenangan untuk menyatakan bahwa korban banjir Arosuka sedang dihukum karena dosa tertentu. Al-Qur’an juga menggambarkan musibah sebagai ujian yang dihadapi orang beriman (QS al-Baqarah : 155–157). Kita wajib introspeksi, tetapi tidak mengetahui penilaian Allah atas pribadi setiap korban.


Pada tingkat sosial, keserakahan yang merusak lingkungan atau kelalaian menjaga keselamatan dapat memperbesar risiko bencana. Hubungan itu tetap harus dibuktikan untuk setiap lokasi. Pada tingkat pribadi, penderitaan seseorang tidak boleh dijadikan bukti bahwa ia lebih berdosa daripada orang yang selamat.


Menjaga alam dan menyiapkan hari esok. 

Iman mengarahkan manusia untuk memikirkan masa depan yang lebih aman dan lebih baik. Allah berfirman, “Wal-tanẓur nafsum mā qaddamat lighad” - hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (QS al-Ḥasyr : 18).


Ayat ini mengajak manusia memeriksa amal dan menyiapkan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Sebagai pelajaran bagi kehidupan bersama, ia juga menguatkan kewajiban kita untuk memikirkan akibat tindakan hari ini bagi generasi esok. 


Menjaga alam, memastikan perilaku terpuji, serta menjauhi kesombongan, kejahatan, dan perbuatan dosa adalah bagian dari ketaatan kepada Sang Khaliq. Kesombongan dapat muncul ketika manusia merasa mampu membangun di mana saja tanpa memperhitungkan sifat tanah dan aliran air. 


Kelalaian dapat muncul ketika tanda bahaya diketahui, tetapi keselamatan orang lain tidak diprioritaskan. Sebaliknya, perilaku terpuji tampak dalam kejujuran menyampaikan risiko, kesediaan memperbaiki kesalahan, dan kepedulian kepada warga yang terdampak.


Sumatera Barat kerap berhadapan dengan berbagai ancaman bencana. Kenyataan ini menjadi peringatan bagi semua pihak untuk terus waspada. Memenuhi kaidah keseimbangan alam dalam pembangunan, dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.


Pada saat yang sama, memperbaiki kualitas ketaatan, baik dalam ibadah maupun amanah sosial adalah kerja yang tidak boleh kendur. Kewaspadaan, pemeliharaan alam, dan ketaatan perlu dijalankan bersama.


Kearifan budaya dan solidaritas. 

Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, alam takambang jadi guru. Alam mengajarkan manusia untuk memperhatikan tanda. Perubahan aliran air, retakan tanah, pohon yang tumbang, atau pengalaman warga tentang kejadian sebelumnya.


Pengetahuan setempat dapat membantu penyelidikan, sementara pengukuran ilmiah membantu menguji dan memperjelasnya.


Bencana juga menguji hubungan sosial. Apakah warga terdampak segera mendapat pertolongan? Apakah kebutuhan anak, lansia, dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal didengar? Apakah keputusan pemulihan melibatkan mereka yang hidup di lokasi? Kepedulian semacam ini merupakan wujud tanggung jawab kepada Allah dan sesama manusia.


Doa, sabar, dan tawakal memberi kekuatan batin kepada korban serta para penolong. Ketiganya berjalan bersama ikhtiar. Mengikuti arahan petugas, memeriksa keamanan lereng dan alur sungai, memperbaiki tata air, serta menata penggunaan lahan berdasarkan hasil kajian. 


Hujan lebat dapat meningkatkan aliran sungai dan memicu longsor maupun banjir bandang, terutama di kawasan lereng dan dataran tinggi. 


Penutup

Banjir dan longsor Arosuka mengingatkan kita bahwa rasa aman pada masa lalu tidak cukup menjadi jaminan bagi masa depan. Ilmu menuntun kita meneliti sebab, menguji dugaan, dan mengurangi risiko. Iman menuntun kita merendahkan hati, memperbaiki perilaku, serta mendampingi mereka yang berduka.


Menyiapkan hari esok berarti menjaga keseimbangan alam, menaati pengetahuan yang menyelamatkan, menjauhi kezaliman, dan memperkuat solidaritas. Saat penyebab setempat belum dipastikan, kita memerlukan penyelidikan yang jujur.


Saat korban membutuhkan bantuan, kita wajib hadir menolong. Dari muhasabah dan tindakan nyata, itulah harapan akan masa depan yang lebih aman dapat dibangun.(*)