Perang Melawan Karhutla Makin Sengit, BNPB Kerahkan 11.567 Personel dan Armada Udara di Sumsel -->

Iklan Atas

Perang Melawan Karhutla Makin Sengit, BNPB Kerahkan 11.567 Personel dan Armada Udara di Sumsel

Selasa, 01 September 2026
Petugas berjibaku memadamkan api akibat karhutla di Sumsel. (ist) 


Palembang, fajarsumbar.com - Perang melawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan memasuki fase krusial. Di tengah puncak musim kemarau dan ancaman El Nino 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Satgas Karhutla Sumsel memperkuat serangan dari darat dan udara untuk memastikan kobaran api tidak meluas menjadi bencana kabut asap.


Hingga pemantauan 30 Agustus 2026, area yang masih membutuhkan penanganan intensif tercatat sekitar 67,06 hektare. Dari jumlah tersebut, patroli udara menemukan 11 titik api dengan luasan sekitar 45 hektare, sedangkan tim darat melalui pengecekan langsung mendeteksi area terbakar sekitar 22,06 hektare.


Sebagaimana siaran pers BNPB yang diterima media ini, Selasa (1/9/2026) menyebutkan, Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, kekuatan utama dalam menghadapi karhutla tetap berada pada sinergi personel di lapangan. Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api, Basarnas, relawan hingga pihak swasta terus bergerak melakukan pemadaman sekaligus mencegah api kembali muncul.


Menurutnya, operasi darat harus terus diperkuat karena kondisi geografis dan karakteristik lahan, khususnya gambut, membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman dari udara. Api yang terlihat padam dapat kembali menyala jika proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.


Hasil operasi gabungan menunjukkan sekitar 18,36 hektare lahan telah berhasil ditangani. Sebanyak 2,5 hektare dipadamkan melalui water bombing, sementara 15,86 hektare lainnya ditangani langsung oleh tim darat. Saat ini, petugas masih melakukan cooling down terhadap sekitar 48,7 hektare lahan yang sebelumnya terbakar, terutama kawasan gambut yang memiliki potensi tinggi memunculkan bara kembali.


Sejumlah wilayah kini menjadi perhatian utama. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tercatat memiliki lima titik dengan luas sekitar 21 hektare, terutama di kawasan Kota Bumi dan Tulung Selapan. Musi Banyuasin menyisakan satu titik seluas sekitar tujuh hektare di Lalan yang memiliki karakter gambut tebal dan diterpa angin kencang. Dua titik lainnya berada di Muara Enim dengan luasan sekitar 11 hektare, sementara titik api juga terpantau di Musi Rawas Utara, OKU Timur, OKU dan Ogan Ilir.


Untuk mempercepat penanganan, sebanyak 11.567 personel gabungan telah dikerahkan. Mereka berasal dari TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Basarnas, Masyarakat Peduli Api, sektor swasta dan relawan. Mobilisasi tersebut dilakukan untuk menghadapi medan sulit, keterbatasan akses menuju lokasi serta persoalan ketersediaan sumber air.


BNPB juga memperkuat tujuh BPBD kabupaten/kota dengan dukungan peralatan karhutla. Daerah penerima bantuan meliputi Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, Kota Palembang, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim dan OKI. Bantuan terdiri dari APD karhutla, selang, pompa jinjing, pompa bertekanan tinggi, nozzle hingga flexible tank.


Tak hanya dari darat, operasi udara juga digenjot. Dari 32 armada udara nasional, sembilan unit disiagakan untuk mendukung penanganan karhutla di Sumsel. Pesawat Cessna 208 Caravan telah menjalankan 27 sortie Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan total 27.000 kilogram bahan semai, sedangkan patroli udara menggunakan helikopter AS365 N2 dan Cessna 208B telah mencatat lebih dari 439 jam terbang.


Sementara itu, operasi water bombing menggunakan helikopter Blackhawk, MI-8 dan Super Puma telah melaksanakan lebih dari 237 sortie pemadaman. Operasi difokuskan pada sejumlah wilayah rawan seperti Tulung Selapan, Rantau Bayur, Sungai Rotan dan Lalan. Angin kencang serta jarak pandang terbatas akibat asap menjadi kendala yang masih harus dihadapi kru di udara.


Upaya tersebut menunjukkan hasil positif. Luas lahan terbakar di Sumsel dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan lebih dari 88 persen. Pada 2023, luas area terbakar mencapai 264.165,68 hektare, kemudian turun menjadi 30.844,96 hektare pada 2024 dan kembali menurun menjadi 11.879,56 hektare pada 2025.


Namun, pemerintah belum menurunkan kewaspadaan. Asap karhutla sempat berdampak terhadap kualitas udara di Palembang. Pada 30 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, stasiun pemantau kualitas udara mencatat ISPU/AQI mencapai angka 247 atau masuk kategori sangat tidak sehat.


BNPB mengingatkan masyarakat agar membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Anak-anak, lansia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan dan jantung diminta menjadi kelompok yang paling diutamakan untuk mendapatkan perlindungan. Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker berstandar medis seperti N95.


Masyarakat juga kembali diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. BNPB bersama seluruh unsur Satgas Karhutla Sumsel memastikan operasi akan terus berlangsung selama 24 jam hingga kondisi benar-benar aman dan seluruh titik api dinyatakan padam. Perang melawan karhutla belum berakhir, terutama selama puncak kemarau masih berlangsung.(Ab)