Usai Santap MBG, 80 Siswa MTsN 1 Pariaman Diduga Keracunan -->

Iklan Atas

Usai Santap MBG, 80 Siswa MTsN 1 Pariaman Diduga Keracunan

Senin, 14 September 2026
Puluhan siswa MTsN 1 Pariaman dilarikan ke Rumah Sakit, usai santap MBG, Senin 14 September 2026

Kota Pariaman - Alarm keselamatan anak sekolah kembali berbunyi keras. Sekitar 80 siswa MTsN 1 Pariaman, Sumatera Barat dilaporkan mengalami kondisi yang diduga keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (14/9/2026).


Dalam hitungan waktu, suasana sekolah berubah mencekam. Ambulans dilaporkan hilir-mudik membawa siswa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.


Dua rumah sakit di Pariaman kini menjadi tempat penanganan para siswa, yakni RSU M. Yamin Pariaman dan RSUD dr. Sadikin di Padusunan. Para siswa yang semula datang ke sekolah untuk belajar harus berakhir di ruang perawatan. 


Kepanikan pun tak hanya dirasakan di lingkungan madrasah. Tetapi juga membayangi para orang tua yang mendapat kabar anak mereka harus dilarikan ke rumah sakit.


Kepala MTsN 1 Pariaman, Drs.Tarmizi, yang dihubungi, Senin siang (14/9/2026) membenarkan adanya kejadian tersebut. Pihak madrasah memastikan para siswa yang mengalami kondisi demikian, telah mendapatkan penanganan medis.


Namun hingga kini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.


Peristiwa ini sontak menempatkan program MBG di bawah sorotan tajam. Makanan yang dirancang sebagai asupan bergizi bagi pelajar justru dikaitkan dengan kejadian yang membuat puluhan anak harus mendapat perawatan. 


Pertanyaan pun bermunculan. Apakah ada persoalan pada makanan, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, atau faktor lain yang menyebabkan para siswa mengalami kondisi tersebut?


Kekhawatiran semakin besar. Lantaran, jumlah siswa yang dilaporkan terdampak mencapai puluhan. 


Sejumlah nama siswa yang dilaporkan masuk dalam penanganan antara lain Nazifa Humaira, Nada Afifah, Hafizah Nahdatul, Salsasabila, Zahra Anggraini, Fatiya Dwi Rahma, Airin Dwita, Keiko, Mutia Ilmi, Raudah, Nazuwa, Yumna Zafira, Syahna Raqurla, Aqila Zahrani, Putri Nadia, Hafila, Husna Azima, Talita, Nazira, Hafizatul, Azkia, Khalika Ulya, Dzaki Risuha, Ibrahim, Mubarkhi, Rafael, Ahsan, Raziq Hanan, Razka Adrit, Harya Pratama. 


Kemudian, Arsenio, Irsyad Yosep, Akhil Rabindra, Rizki Maulana, Rizki Febrianza, Nailatul Humaira, Syabila, Atsila, Ruri, Raisha, Lutfia Latisha, Salwa Fatima, Annisa Munawarah, Afifah Naurah, Bilqis, Desti, Nursazila Amanda, Caca Dwi, Muzalena, Qolbi Khairul, Aqila Nafisa, Azzahra Syafrita, Nigina, Ufaira, Husnia, Cinta Khairunnisa, Hafilah, Ozil Irsyandi, Abid Aqila, Muhammad Cego, Fajar Maulana, Afni Nuraini, M Alta Redlin, Muhammad Abdul Aziz, Raisa Azhara, Gea Afniano, Jeli, Rafila, Khaila Putri, Aulia Zulfadila, Nafizah Arfitri, Asiyah Putri Lestari, Rafi Muzaki, Raijalul Faiz, Dzaki Wijaya, Faeza Raif, Hanif Haikal dan Alfian Zulfadli


Bagi orang tua, persoalannya sederhana namun sangat serius. Anak dikirim ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan dan makanan yang aman. Bukan untuk berakhir di rumah sakit.


Penyelidikan menyeluruh menjadi penting agar fakta tidak tenggelam di tengah kepanikan. Sampel makanan, rantai distribusi, proses penyajian serta kondisi medis siswa perlu ditelusuri secara transparan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


Kasus ini, kini menjadi ujian penting bagi pelaksanaan MBG. Program sebesar ini membutuhkan jaminan bahwa setiap makanan yang sampai ke tangan anak benar-benar aman dikonsumsi.


Jika dugaan keracunan nantinya terbukti berkaitan dengan makanan MBG, maka evaluasi tidak boleh berhenti pada teguran administratif. 


Keselamatan puluhan siswa MTsN 1 Pariaman harus menjadi prioritas, dan publik berhak mendapatkan jawaban yang terang tentang mengapa anak-anak itu sampai tumbang setelah makan.(saco).