![]() |
| . |
Padang, fajarsumbar.com - Delapan puluh satu tahun perjalanan Provinsi Sumatera Barat bukan sekadar catatan usia. Momentum Hari Jadi Sumbar ke-81 menjadi ruang refleksi untuk mengukur sejauh mana pembangunan telah memberi dampak kepada masyarakat sekaligus merumuskan langkah menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Pesan tersebut mengemuka dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi Sumatera Barat dalam rangka memperingati Hari Jadi Sumatera Barat ke-81, Kamis (1/10/2026). Forum tersebut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri RI Dr. H. Bima Arya Sugiarto, Gubernur Sumbar Mahyeldi, serta Presiden Senat Malaysia periode 2020–2023, Tan Sri Dato’ Seri Panglima Dr. Rais Yatim, yang mengikuti kegiatan melalui Zoom Meeting.
Sejumlah pejabat dan tokoh daerah juga hadir, mulai dari unsur Forkopimda Sumbar, anggota DPR dan DPD RI daerah pemilihan Sumatera Barat, pimpinan dan anggota DPRD Sumbar, Sekda, bupati dan wali kota se-Sumbar, pimpinan instansi vertikal, BUMN dan BUMD, perguruan tinggi, organisasi keagamaan hingga tokoh masyarakat.
Ketua DPRD Sumbar Muhidi mengatakan, usia 81 tahun harus dimaknai sebagai kesempatan untuk melihat kembali perjalanan daerah secara menyeluruh. Menurutnya, capaian pembangunan tidak boleh berhenti sebagai angka statistik, tetapi harus menjadi dasar untuk memastikan masyarakat memperoleh kehidupan yang semakin baik.
Perjalanan Sumatera Barat, katanya, juga tidak terlepas dari berbagai ujian. Gempa bumi 2009, pandemi Covid-19 hingga berbagai bencana hidrometeorologi telah menguji kemampuan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi krisis. Berbagai pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting untuk membangun daerah yang lebih siap menghadapi ketidakpastian.
Dari indikator pembangunan manusia, IPM Sumatera Barat tercatat mencapai 77,27. Sementara angka kemiskinan pada Maret 2026 berada pada level 5,27 persen dengan Indeks Gini sebesar 0,285. Capaian tersebut menjadi modal penting, namun sekaligus menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama.
Muhidi juga menaruh perhatian pada penguatan sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Pendidikan, keterampilan, kreativitas dan inovasi dinilai harus terus diperluas agar anak-anak muda Sumbar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan peluang ekonomi baru.
Hal serupa berlaku bagi sektor UMKM. Penguatan UMKM tidak cukup hanya melalui bantuan modal, tetapi juga membutuhkan peningkatan kapasitas, pemanfaatan teknologi, digitalisasi, akses pasar, pembiayaan serta pendampingan berkelanjutan agar pelaku usaha mampu naik kelas.
Di tengah perubahan zaman, pembangunan Sumbar juga tidak dapat dilepaskan dari karakter dan identitas masyarakatnya. Nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK) disebut tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga jati diri masyarakat Minangkabau di tengah derasnya arus teknologi dan globalisasi.
Persoalan lain yang mendapat perhatian adalah ketangguhan daerah menghadapi bencana. Posisi geografis Sumatera Barat membuat masyarakat harus selalu siap menghadapi potensi gempa, tsunami, letusan gunung api, longsor maupun banjir. Karena itu, mitigasi dan kesiapsiagaan tidak boleh ditempatkan sebagai agenda setelah bencana terjadi, tetapi harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan.
Gubernur Sumbar Mahyeldi dalam kesempatan tersebut menyampaikan, Hari Jadi ke-81 juga menjadi momentum untuk menghormati sejarah dan jasa para pendahulu. Namun, peringatan tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial karena harus dilanjutkan dengan evaluasi dan kerja nyata menjawab persoalan masyarakat.
Mahyeldi menyebut sejumlah indikator pembangunan sebagai gambaran perkembangan Sumatera Barat. IPM 2025 berada di angka 77,27, sedangkan tingkat kemiskinan Maret 2026 sebesar 5,27 persen. Ekonomi Sumbar pada Triwulan II 2026 juga tumbuh 4,54 persen secara tahunan.
Menurut Mahyeldi, pertumbuhan ekonomi tersebut perlu terus diterjemahkan menjadi peningkatan kesempatan kerja, pendapatan riil dan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan tidak cukup hanya terlihat dalam indikator makro, tetapi harus dirasakan lebih luas oleh masyarakat di berbagai wilayah Sumatera Barat.
Karena itu, tema “Sumbar Tumbuh, Sumbar Tangguh” menjadi pesan utama peringatan Hari Jadi Sumbar ke-81. Tumbuh berarti terus meningkatkan kualitas hidup, memperkuat perekonomian dan menciptakan ruang bagi generasi muda untuk berkembang. Sedangkan tangguh berarti memiliki kemampuan untuk menghadapi krisis, bangkit dari berbagai kesulitan dan menjaga fondasi sosial, budaya serta pemerintahan.
Semangat tersebut membutuhkan kerja bersama. Pemerintah dan DPRD tidak dapat berjalan sendiri. Dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat serta perantau juga memiliki peran strategis untuk memperkuat pembangunan daerah.
Dengan demikian, 81 tahun Sumatera Barat bukan hanya tentang menoleh ke belakang, tetapi juga menentukan arah perjalanan berikutnya. Tantangannya adalah memastikan setiap capaian pembangunan bermuara pada manfaat yang semakin nyata, sehingga Sumbar tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga semakin tangguh, berbudaya dan mampu memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya. (*)
Komentar