Darah, Keringat, dan Perunggu, Keteguhan Hati Aisyah di Matras Porprov XVI Sumbar -->

Iklan Atas

Darah, Keringat, dan Perunggu, Keteguhan Hati Aisyah di Matras Porprov XVI Sumbar

Sabtu, 03 Oktober 2026
Apresiasi KONI -  Sekretaris Umum KONI Sawahlunto, Hendri Febriyudi (kanan), saat mengunjungi peraih medali taekwondo, memberikan apresiasi atas pencapaian medali perunggu yang berhasil diraih di arena Porprov XVI Sumbar 2026. (foto: humas koni sawahlunto)


Oleh: Anton Saputra (Wartawan Madya Sertifikasi Dewan Pers) 


JIKA emas selalu diidentikkan dengan puncak kejayaan, maka seeping perunggu yang diraih Aisyah pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 adalah sebuah epitome dari keberanian yang melampaui batas fisik manusia. 


Di Gelanggang Olahraga (GOR) Alimin Sinapa, Kota Solok, Sabtu 3 Oktober 2026, atlet Taekwondo kebanggaan Kota Arang Sawahlunto itu mengukir kisah yang tak sekadar tercatat dalam angka skor, melainkan terpahat dalam ingatan siapa pun yang menyaksikannya. Medali perunggu kelas U-67 kg putri yang kini melingkar di lehernya tidak diraih dengan mudah, melainkan meneteskan darah nyata dari arena pertarungan.


​Atmosfer GOR Alimin Sinapa membara ketika laga semifinal kelas U-67 kg putri dimulai. Sejak awal ronde, Aisyah tampil dominan dengan ritme serangan yang terukur dan taktik bertarung yang mengintimidasi lawan. Namun, petaka datang di tengah sengitnya jual-beli serangan. Sebuah benturan kilat berupa tendangan keras lawan mendarat telak di area pelipis Aisyah. Dalam hitungan detik, darah segar mulai mengucur, mengaliri wajahnya dan menetes ke atas matras. Pertandingan seketika dihentikan oleh wasit untuk memberikan penanganan medis darurat.


​Gemuruh sorak penonton perlahan surut menjadi keheningan yang mencekam. Tim medis bergegas masuk ke dalam arena untuk memeriksa kondisi pelipis Aisyah yang terus mengeluarkan darah. Sesaat, harapan untuk terus melangkah menuju partai puncak tampak pupus. Wajah-wajah cemas terpancar dari sudut kontingen Sawahlunto, menyadari betapa besarnya risiko jika pertandingan dipaksakan berlanjut. Banyak yang menduga perjuangan atlet muda itu harus terhenti di tangan keputusan medis.


​Namun, di balik balutan rasa sakit yang amat sangat, jiwa pejuang Aisyah justru membara. Ketika keputusan untuk mengundurkan diri membayang, ia secara mengejutkan menolak untuk menyerah. Dengan napas terengah dan pandangan mata yang penuh keteguhan, Aisyah meminta tim medis dan wasit untuk mengizinkannya kembali bertarung. Ia menyapu sendiri sisa darah yang menetes di wajahnya, mengencangkan kembali tali headguard, lalu melangkah mantap berdiri tegak di tengah matras dengan tekad yang tak tergoyahkan.


​Dua ronde tersisa menjadi panggung pembuktian ketahanan mental yang luar biasa. Bertarung dalam kondisi fisik yang jauh dari ideal serta luka yang sewaktu-waktu bisa kembali terbuka, Aisyah pantang mundur semenit pun. Setiap pendaratan kaki dan ayunan serangannya dilancarkan dengan sisa kekuatannya, memberikan perlawanan yang sengit hingga bel tanda berakhirnya ronde ketiga berbunyi. Meski pada akhirnya dewan juri memutuskan kemenangan poin bagi lawannya dan menempatkan Aisyah di posisi ketiga, kekalahan angka itu sama sekali tidak mengecilkan pengorbanannya.


​Begitu pertarungan usai, tangis haru menyelimuti area pertandingan. Air mata yang menetes bukan bersumber dari penyesalan atas kegagalan meraih emas, melainkan wujud rasa bangga yang membuncah dari seluruh tim ofisial, pelatih, hingga penonton yang berdiri memberikan standing ovation. 


Aisyah berhasil membawa pulang medali perunggu untuk Kota Sawahlunto—sebuah lambang perjuangan yang ditempa oleh darah, air mata, dan keteguhan jiwa, yang nilainya jauh lebih berharga daripada sekadar logam kilau kejuaraan. (***)