Dari Sungai Limau ke Panggung Nasional, Rustian dan Wacana Masa Depan Sumbar -->

Iklan Atas

Dari Sungai Limau ke Panggung Nasional, Rustian dan Wacana Masa Depan Sumbar

Kamis, 08 Oktober 2026
Dr apt Rustian


Padang, fajarsumbar.com -  Nama Dr. apt. Rustian, S.Si., M.Kes., belakangan semakin lekat dengan isu kebencanaan nasional. Putra Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar ini kini berada di posisi strategis sebagai Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).


Posisi tersebut membuat Rustian berada di salah satu simpul penting dalam koordinasi penanggulangan bencana Indonesia. Dari tingkat pusat hingga daerah, penguatan koordinasi, kelembagaan, sumber daya dan kesiapsiagaan menjadi bagian dari pekerjaan yang harus terus dikawal.


BNPB mencatat Rustian dilantik sebagai Sestama pada Juli 2023. Sebelumnya, ia dipercaya sebagai Direktur Sumber Daya Darurat BNPB. Perjalanan kariernya di lembaga tersebut juga memperlihatkan pengalaman pada sejumlah bidang yang berkaitan langsung dengan penanganan bencana.


Yang menarik, pengalaman di tingkat nasional itu berjalan beriringan dengan kedekatannya terhadap Sumatera Barat. Rustian tidak hanya membawa identitas sebagai urang awak, tetapi juga aktif membangun hubungan antara BNPB dan Universitas Andalas dalam pengembangan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis kebencanaan.


Dalam penanganan bencana Sumbar, namanya juga beberapa kali muncul dalam agenda pemulihan dan penguatan kapasitas daerah. Pada awal 2026, misalnya, BNPB melibatkan 400 mahasiswa Universitas Andalas dalam proses verifikasi dan validasi rumah warga yang rusak akibat banjir dan longsor. Rustian menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam penanggulangan bencana.


Dr apt Rustian Sestama BNPB ketika meninjau bencana alam


Kedekatan Rustian dengan dunia akademik Sumbar juga terlihat dari keterlibatannya dalam kegiatan Unand. Pada 2026, ia hadir sebagai narasumber dalam penguatan sumber daya manusia bidang kebencanaan. Unand juga terus mengembangkan kajian kebencanaan, termasuk riset mengenai ancaman megathrust dan penyusunan bahan pembelajaran terkait bencana hidrometeorologi.


Di tingkat nasional, perannya pun tidak berhenti pada urusan administratif. Pada Agustus 2026, Rustian membuka Rapat Koordinasi Teknis Penanggulangan Bencana yang mempertemukan pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat koordinasi serta kapasitas daerah menghadapi risiko bencana. Sebelumnya, ia juga membuka pertemuan ASEAN Committee on Disaster Management ke-48 di Bandung.


Rekam jejak itulah yang kemudian memunculkan wacana di tengah masyarakat mengenai sosok putra daerah dengan pengalaman birokrasi nasional seperti Rustian dan kemungkinan perannya bagi Sumatera Barat pada masa mendatang. Wacana tersebut tentu menjadi bagian dari dinamika publik dan bukan berarti menunjukkan adanya keputusan atau pencalonan resmi.


Namun, satu hal yang jelas, perjalanan Rustian dari Sungai Limau hingga menduduki jabatan pimpinan tinggi madya di BNPB menunjukkan bagaimana pengalaman daerah dapat dibawa ke panggung nasional. Pada saat yang sama, pengalaman nasional tersebut membuka ruang lebih luas bagi kontribusinya untuk kampung halaman.


Bagi Sumatera Barat yang memiliki risiko gempa, tsunami, longsor, banjir dan berbagai bencana hidrometeorologi, pengalaman panjang di bidang manajemen bencana menjadi salah satu modal penting dalam membangun daerah yang lebih tangguh.


Pada akhirnya, bukan sekadar soal siapa yang akan memimpin Sumbar di masa depan. Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman, jaringan, pengetahuan dan kapasitas putra-putri terbaik daerah dapat dikembalikan untuk memperkuat pembangunan Sumatera Barat.


Dan Rustian, dengan perjalanan dari Sungai Limau menuju posisi strategis di BNPB, menjadi salah satu nama yang menarik untuk diperbincangkan dalam konteks tersebut.(Bb)