Oleh: Anton Saputra (Wartawan Madya Sertifikasi Dewan Pers)
Garis batas di Lapangan Panahan Semen Padang belum benar-benar kering dari sisa gempuran hujan deras yang mengguyur sehari sebelumnya. Namun, pada Sabtu, 3 Oktober 2026, atmosfer di tengah lapangan berubah tajam. Keheningan yang biasa menyelimuti arena tembak berganti menjadi getaran haru dan bangga.
Di tempat inilah, kisah ketangguhan fisik, ketajaman mental, dan kepastian komitmen saling bertaut, menegaskan bahwa keringat yang menetes di medan laga Porprov XVI Sumatera Barat tidak pernah menguap tanpa arti.
Perjuangan kontingen Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kota Sawahlunto adalah sebuah drama ketahanan mental kelas tinggi. Di bawah hempasan cuaca ekstrem dan deru angin yang tak menentu, tiga ksatria panah Kota Arang—Muhammad Adis Abiyu, Habib Adelo, dan Lucky Zahran Risdian—tampil melampaui batas kemampuan biasa.
Adis Abiyu berdiri sebagai sosok sentral yang memperlihatkan kelasnya sebagai pemanah jempolan. Dengan jemari yang mantap dan fokus sekeras baja, ia menarik tali busurnya menembus tirai air, mempersembahkan medali emas pertama dari nomor kualifikasi Divisi Nasional Putra, lalu melipatgandakan kejayaan tersebut lewat emas kedua pada nomor eliminasi perorangan putra.
Puncak dari pertunjukan ketangkasan itu meletup ketika Adis bahu-membahu bersama Habib Adelo dan Lucky Zahran Risdian di nomor eliminasi beregu tim putra. Irama tarikan busur yang serasi, komunikasi yang dingin di bawah tekanan tinggi, serta kepercayaan antar-atlet menjelma menjadi sapuan kemenangan yang sempurna. Tiga medali emas berhasil dikunci.
Di balik bidikan presisi ketiga atlet tersebut, ada sosok pelatih dingin yang tak henti berdiri di garis belakang: Ryan Febryonas. Tangan dingin sang pelatih dalam meletakkan dasar fondasi taktik, menjaga ritme napas para atlet, serta membakar mental bertanding anak asuhnya di tengah guyuran hujan menjadi jembatan utama yang mengantarkan Perpani Sawahlunto merengkuh trigatra emas.
Namun, keagungan olahraga tidak berhenti pada raihan medali yang mengkilap di dada. Makna sejati dari perjuangan itu menemukan bentuk utuhnya tatkala janji yang pernah diucapkan di hadapan para atlet dibayar tuntas tanpa penundaan.
Ketua KONI Sawahlunto, H. Jhon Reflita, hadir langsung di Lapangan Panahan Semen Padang untuk menunaikan ikrar yang telah diusungnya bersama sosok pengusaha dermawan, H. Idris. Kehadiran H. Jhon Reflita di tengah-tengah atlet dan pelatih bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan wujud kepedulian tulus seorang pemimpin yang paham betul betapa harganya setiap bulir keringat para pejuang olahraga.
Di hadapan jajaran atlet dan pelatih Perpani yang masih dibalut rasa haru, H. Jhon Reflita menyerahkan reward pribadi hasil kolaborasinya dengan H. Idris. Tanpa birokrasi yang berbelit, janji apresiasi itu direalisasikan secara langsung: bonus senilai dua juta rupiah diserahkan kepada pemanah perorangan peraih emas, sementara untuk nomor beregu yang diraih oleh ketangguhan trio Adis, Habib, dan Lucky, dikucurkan bonus sebesar lima juta rupiah.
Tak melupakan peran vital di balik layar, penghargaan setinggi-tingginya juga diberikan kepada sang pelatih, Ryan Febryonas, dengan penyerahan bonus pribadi sebesar lima juta rupiah.
Penyerahan reward pribadi ini menjadi bukti sahih bahwa komitmen untuk mengangkat harkat para atlet di Kota Sawahlunto bukanlah sekadar narasi pemanis di awal kompetisi. Kolaborasi tulus antara H. Jhon Reflita dan H. Idris telah menjelma menjadi energi nyata yang membentengi mental bertanding para atlet.
Ketika seorang pemimpin menepati janjinya secara instan di lapangan, rasa dihargai itu meresap dalam ke dada setiap atlet dan pelatih. Penyerahan bonus ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru kontingen Kota Arang bahwa setiap perjuangan, setiap busur yang ditarik, dan setiap kemenangan yang diraih untuk nama Sawahlunto akan selalu dijunjung tinggi dan diganjar dengan penghormatan yang sangat layak. (***)
Komentar

