![]() |
| Bakhrial Eri bersama Drs.H.Amiruddin, MA Tk.Majolelo ketika berada di Mushalla Ar-Rasul, usai shalat Zuhur, Kamis 1 Desember 2022 (foto.tka) |
Padang Sago - Berkat kepedulian yang didorong rasa kekompakan dan kebersamaan warga Padang Sago baik yang berada di kampuang halaman maupun rantau untuk membangun "kampuang" ini sangat membanggakan kita untuk kedepannya.
Hal demikian dikemukan Bakhrial Eri (59) yang merupakan salah seorang putra Padang Sago, ketika bincang-bincang dengan awak media ini, usai shalat Dzuhur di Mushalla Ar-Rasul, KM 7.5 Jalan Raya Koto Mambang - Malalak, Korong Lubuak Aro Timur, Nagari Tandikek, Kamis (1/12/22), sehubungan geliat pembangunan di Kecamatan Padang Sago yang didukung warga ranah dan rantau.
Bermodalkan rasa kebersamaan ini, kata Bakhrial Eri yang merupakan Anak Nagari Koto Dalam ini, adalah dorongan dari ungkapan "tali tigo sapilin, tungku sajarangan disitu api mako hiduik" untuk bergerak cepat membangkik Batang Tarandam demi kemajuan Nagari.
Bakhrial Eri mengaku sangat gembira melihat kekompakan warga Padang Sago antara kampung dan rantau. Terutama mendorong kemajuan Nagari demi kesejahteraan warga masyarakat.
Namun demikian, ucap Eri panggil akrabnya, juga tak kalah pentingnya membangun pendidikan sebagai pencerahan kecerdasan "sanak kamanakan" dalam Nagari yang ada di Kecamatan Padang Sago.
"Terutama kiranya para dunsanak semua, melahirkan lembaga pendidikan luar biasa yang diperuntukan kepada anak kamananakan yang mengalami "disibilitas". Lembaga pendidikan sekolah luar biasa ini, akan menampung anak-anak kita yang berkekurangan alias cacat" ujar Eri sambil mengangguk-angguk.
Menurut Eri yang punya hobi olahraga sepeda gunung ini, maka perlu dibentuk sebuah Yayasan atau Lembaga oleh "Putra Padang Sago" untuk menampung anak-anak kito yang disibilitas tersebut.
"Kalau tidak kita, siapa lagi, kalau tidak hari ini, kapan lagi memfasilitasi sanak kamanakan yang disibilitas ini untuk dapat mengenyam pendidikan yang dikelola di Padang Sago. Pun lembaga sekolah yang model ini, belum ada di Padang Sago dan Patamuan dari 17 kecamatan di Padang Pariaman" ungkap Eri yang tinggal bersama keluarganya di Paguah Dulu, Nan Sabaris.
Ketika ditanya tentang ada atau tidaknya anak yang disibilitas di wilayah Padang Sago dan Patamuan, ia menyanggah, jangan bilang tidak ada.
"Kemungkinan itu ada ditemukan, tetapi dikalangan warga awak pada umumnya, agak merasa risih jikalau anak-anak mereka ketika dibawa keluar rumah. Untuk apa di Sekolahkan anak ke Kota Pariaman, begitu jauh dan berbiaya kesana. Tentu mereka berdiam saja di rumah. Sebab biaya untuk hidup dalam keluarga ini, juga susah" sebut Eri pensiunan PNS, yang mengaku semasa bertugas sering kali keluar masuk kampung pada beberapa Kecamatan dulunya.
Ia menyarankan, kiranya para tokoh dan pemuka masyarakat Padang Sago baik yang di ranah maupun rantau, supaya memikirkan membentuk wadah, berupa Yayasan yang akan mengelola sekolah itu nantinya.
Secara terpisah, Indra Kusnadi SE, ME mantan Pimpinan Perusahaan Koran Singgalang Padang ini, juga punya ide yang sama agar dapat didirikan Yayasan Pembangunan Padang Sago.
Kata Indra, begitu banyak hal yang dibuat oleh Yayasan untuk membangun Padang Sago, baik fisik maupun mental guna untuk mencerdaskan sanak kamanakan awak di kampung.
"Kehadiran sebuah lembaga resmi berbadan hukum, maka akan banyak program akan dirancang. Yang terpenting para pengelola dan pengurus, punya krebedilitas tinggi dan mampu mengakomondir dari semua lini untuk kemajuan anak Nagari" tegas Indra yang lebih akrab disebut Kadai Raoyan.
Sedangkan Herman Zein alias Ajo Kopan, juga mengajak masyarakat Padang Sago untuk bangkit kembali, sebagaimana telah dilakukan para Tokoh Padang Sago dulunya, Sabaruddin Abbas umpamanya dan yang lain-lainnya
"Coba kita pikirkan dan renungkan dengan pikiran yang mendalam, indak ado istilahnyo urang lain yang akan membangun kampung awak. Kalau kito sendiri lalok dan bapangku tangan," tegas Da Man yang mengaku sudah tinggal di Kota Padang. (tka/sa)
Komentar