Bupati John Kenedy Azis Gandeng Kampus, Birokrasi Didesak Bergerak Lawan Stunting -->

AdSense New

Bupati John Kenedy Azis Gandeng Kampus, Birokrasi Didesak Bergerak Lawan Stunting

Kamis, 09 April 2026
Bupati John Kenedy Azis bersama jajaran Poltekes Padang serta mahasiswa, Kamis 9 April 2026 (foto.ikp) 

Padang Pariaman - Ada kegelisahan yang tak lagi bisa disembunyikan. Di tengah ancaman stunting dan rapuhnya layanan kesehatan di akar rumput, John Kenedy Azis memilih keluar dari pola lama. Bekerja sendiri.


Ia sadar, tanpa kolaborasi nyata, program kesehatan hanya akan berhenti sebagai laporan, bukan perubahan.


Langkah itu ditegaskan saat sinergi antara Pemkab Padang Pariaman dan Poltekkes Kemenkes Padang dipertegas dalam sebuah forum di auditorium kampus tersebut, Kamis (9/4/2026).


Bukan sekadar seremoni kerja sama, melainkan upaya membangun kekuatan baru antara birokrasi dan dunia akademik.


Bupati John Kenedy Azis menegaskan, tantangan kesehatan hari ini tak lagi sederhana. Stunting, layanan ibu dan anak, hingga keterbatasan tenaga kesehatan di nagari menjadi persoalan nyata yang menuntut solusi konkret, bukan janji berulang. Di titik inilah kolaborasi dianggap sebagai jalan keluar yang tak bisa ditunda.


“Ini bukan sekadar kerja sama di atas kertas,” tegasnya. Ia ingin sinergi itu hidup di lapangan, menyentuh masyarakat, mengubah pola pikir, dan menghadirkan layanan kesehatan yang benar-benar terasa.


Mahasiswa dan dosen dari Poltekkes pun didorong turun langsung. Mereka tidak lagi hanya belajar di ruang kelas, tetapi hadir di tengah masyarakat melalui praktik lapangan, penyuluhan, hingga riset berbasis kebutuhan lokal.


Pendekatan ini diharapkan mampu menjembatani teori dan realitas yang selama ini kerap berjarak. Di sisi lain, Pemkab Padang Pariaman mengklaim tak tinggal diam.


Berbagai langkah telah digulirkan, mulai dari rembuk stunting hingga komitmen lintas sektor yang melibatkan Forkopimda dan perangkat daerah. Bahkan nagari ikut didorong menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan.


Program konkret pun telah berjalan. Pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal untuk balita, intervensi gizi bagi ibu hamil, hingga layanan kesehatan langsung oleh tenaga spesialis ke puskesmas.


Namun diakui, semua itu belum cukup tanpa dukungan ilmu pengetahuan dan inovasi.


Kini, harapan ditumpukan pada pertemuan dua kekuatan. Birokrasi dan kampus. Jika sinergi ini benar-benar berjalan, Padang Pariaman tak hanya berpeluang menekan angka stunting, tetapi juga menciptakan model baru. Bahwa perubahan besar hanya lahir ketika semua pihak berhenti berjalan sendiri.(saco).