![]() |
| Taufik Effendi, Kadis Kominfo Solsel, saat berbagi pengalaman dengan ASN tempat dia mengabdi. (Abg) |
Solsel, fajarsumbar.com - Perjalanan hidup Taufik Effendi tidak berhenti pada profesinya sebagai wartawan, juga ASN. Dari dunia jurnalistik, ia justru menemukan pertanyaan yang lebih dalam: mengapa banyak orang terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang tidak baik-baik saja?
Pertanyaan itu membawanya pada eksplorasi panjang tentang batin manusia, hingga melahirkan sebuah gagasan yang kini dikenal sebagai Nalareka.
“Awalnya saya hanya ingin memahami diri sendiri. Tapi ternyata, banyak orang mengalami hal yang sama,” ungkapnya.
Nalareka lahir sebagai ruang refleksi yang mengajak pembaca untuk kembali ke dalam diri. Melalui tulisan-tulisannya, Taufik Effendi--akrab dipanggil TE--mencoba memetakan hubungan antara ruh, hati, akal, dan nafs sebagai sumber konflik sekaligus solusi dalam kehidupan manusia.
Berbeda dengan konten motivasi pada umumnya, pendekatan Nalareka lebih bersifat kontemplatif dan filosofis. Pembaca tidak hanya diberi solusi, tetapi diajak memahami akar persoalan dalam dirinya.
Selain menulis artikel, TE juga telah menyelesaikan sejumlah novel, yang dirilisnya di Nalareka, yakni Algoritma Takdir, Clean ur Heart, Quantum Synchronization Control, dan serial Genk Salik – Surau Digital. "Itu mengangkat tema spiritualitas dalam konteks modern, dan ditayang pula di Nalareka," imbuh TE.
Kini, Nalareka perlahan berkembang menjadi sebuah “rumah besar” pemikiran yang tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan oleh para pembacanya. (Abg)
Komentar