Gagal Raih Penghargaan, Padang Pariaman Justru Panaskan Mesin Perubahan -->

AdSense New

Gagal Raih Penghargaan, Padang Pariaman Justru Panaskan Mesin Perubahan

Minggu, 26 April 2026
Bupati John Kenedy Azis hadiri ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi tahun 2026 di Palembang, Sumatera Selatan

Palembang - Riuh tepuk tangan menggema di aula megah Palembang saat satu per satu daerah terbaik diumumkan. Namun di tengah euforia itu, Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis justru menyerap pelajaran paling sunyi. 


Bagaimana bangkit dari ketertinggalan tanpa kehilangan arah. Ia hadir bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai pembaca peta masa depan.


Ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 yang digelar Kementerian Dalam Negeri menjadi panggung besar bagi ratusan kepala daerah se-Sumatera.


Selama dua hari, 25–26 April 2026, Palembang berubah menjadi ruang adu gagasan, tempat di mana kinerja diuji bukan hanya lewat angka, tetapi juga dampaknya bagi rakyat.


Di balik gemerlap penghargaan dan insentif fiskal hingga Rp1 miliar, terselip realitas yang tak semua daerah siap rayakan. Padang Pariaman termasuk yang belum berdiri di podium tahun ini. 


Namun justru di titik itu, narasi perubahan mulai menemukan pijakannya. Tidak ada pencapaian tanpa evaluasi yang jujur.


“Ini bukan akhir, tapi cermin,” ujar John Kenedy Azis dengan nada tegas. Baginya, ketidakhadiran nama Padang Pariaman dalam daftar penerima penghargaan bukan kegagalan mutlak, melainkan alarm untuk mempercepat langkah.


Ia menyebut forum ini sebagai ruang belajar yang mahal, tempat strategi diuji dan mental ditempa.


Kategori penilaian yang dipertandingkan bukan hal ringan. Pengendalian inflasi, penurunan pengangguran, pengentasan kemiskinan dan stunting, hingga inovasi pembiayaan daerah. Semua itu menjadi indikator keras yang menuntut kerja nyata, bukan sekadar retorika kebijakan.


Di sela forum akselerasi, berbagai strategi dibedah. Mulai dari efisiensi anggaran hingga kolaborasi lintas sektor. Diskusi berlangsung tajam, bahkan kadang panas, karena setiap daerah membawa ambisi yang sama. Menjadi yang terbaik. Padang Pariaman pun tak ingin sekadar menjadi penonton dalam kompetisi ini.


“Kita tidak boleh puas dengan kondisi sekarang. Kita harus berlari lebih cepat,” tegasnya lagi. 


Komitmen itu bukan sekadar pernyataan formal, melainkan sinyal bahwa arah pembangunan akan dikoreksi dan dipacu lebih agresif.


Malam penganugerahan memang berakhir tanpa trofi untuk Padang Pariaman. Namun dari ruang itulah, semangat baru lahir.


Lebih keras, lebih sadar, dan lebih siap bersaing. Karena dalam kompetisi daerah, yang bertahan bukan yang paling cepat di awal, melainkan yang paling konsisten berbenah.(r-saco).