![]() |
| . |
Seminar ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mata kuliah Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau yang telah dilaksanakan di Desa Pulau Gadang, Kecamatan XIII Koto Kampar pada 16-18 Januari 2026 lalu.
Dalam sambutannya, Dr. Aisiah, M.Pd., Kepala Departemen Sejarah, menjelaskan bahwa seminar ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai hubungan sejarah dan kebudayaan antara Minangkabau dan Kampar.
Dalam sambutannya, Dr. Aisiah, M.Pd., Kepala Departemen Sejarah, menjelaskan bahwa seminar ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai hubungan sejarah dan kebudayaan antara Minangkabau dan Kampar.
Ia juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama antara Prodi Pendidikan Sejarah UNP dengan Pemerintah Desa Pulau Gadang yang dimulai sejak tahun 2025. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian lebih mendalam, serta berkontribusi pada pengabdian masyarakat dan pelestarian kearifan lokal.
Seminar ini dibuka secara resmi oleh Dr. Hasrul Piliang, M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademis dan Kemahasiswaan FIS UNP.
Seminar ini dibuka secara resmi oleh Dr. Hasrul Piliang, M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademis dan Kemahasiswaan FIS UNP.
Dalam sambutannya, Dr. Hasrul menyampaikan apresiasi atas kegiatan akademis ini dan menekankan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik dan praktisi adat dalam memperkaya wawasan keilmuan mahasiswa. Menurutnya, integrasi antara teori dan praktik ini akan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa dalam memahami dinamika budaya dan sejarah daerah.
Pada seminar ini, hadir pula narasumber dari Kampar, yaitu Kepala Desa Pulau Gadang, Syofian, SH., MH., N.LP., Dt. Majosati, yang memberikan perspektif autentik mengenai hubungan kultural dan emosional antara Minangkabau dan Kampar. Selain itu, dosen sejarah UNP, Dr. Hendra Naldi, S.S., M.Hum., juga turut memaparkan tinjauan historis mengenai Kampar yang merupakan bagian integral dari Pucuak Rantau Minangkabau. Beliau menjelaskan bahwa meskipun terdapat perubahan dalam pola keruangan akibat pembangunan PLTA Koto Panjang, identitas kultural masyarakat Kampar tetap terjaga, terutama melalui ikatan adat dan memori kolektif yang kuat.
Dr. Rusdi, M.Hum., juga turut memberikan pembahasan mendalam mengenai transformasi sistem kepemimpinan di Desa Pulau Gadang. Beliau menyampaikan bahwa meskipun kepala desa dipilih secara demokratis, sistem kepemimpinan adat masih tetap memegang peranan penting dalam memberikan legitimasi terhadap kepala desa. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada perubahan dalam struktur pemerintahan, nilai-nilai adat tetap menjadi landasan yang kokoh dalam kehidupan masyarakat.
Syofian Dt. Majosati, Kepala Desa Pulau Gadang, menambahkan bahwa hubungan antara Kampar dan Minangkabau sangat erat, terutama dalam hal sistem kekerabatan matrilineal, adat, serta peran ninik mamak yang masih dijunjung tinggi hingga saat ini. Menurutnya, hubungan ini tidak hanya didasarkan pada nilai-nilai kultural yang sama, tetapi juga memiliki akar sejarah yang panjang, termasuk dalam konteks pemerintahan pada masa kolonial Belanda.
Selain itu, seminar ini juga dihadiri oleh berbagai tokoh penting, di antaranya mantan Rektor UIN Susqa, Prof. Dr. H. Munzir Hutami, Dr. Khairil Ilyas, serta budayawan Kampar, Drs. Latif Khasim. Kehadiran mereka semakin memperkaya diskusi dalam seminar yang berlangsung dengan sangat interaktif. Mahasiswa yang hadir aktif menggali lebih dalam mengenai berbagai topik, mulai dari pola migrasi, kesamaan dialek, hingga struktur adat yang ada di Kampar.
Dengan kegiatan ini, Prodi Pendidikan Sejarah FIS UNP menunjukkan komitmennya dalam tidak hanya mengajarkan sejarah melalui teori dan teks, tetapi juga merajut kembali silaturahmi kebudayaan antara Minangkabau dan Kampar melalui aktivitas kuliah kerja lapangan yang konkret dan aplikatif.(*)
Komentar