![]() |
| Bupati John Kenedy Azis didampingi Wabup Rahmat Hidayat, Pj Sekda Hendra Aswara, kepala OPD terkait, camat dan walinagari turun ke tepi Batang Anai, Senin malam 4 Mei 2026, lihat kondisi jembatan yang ambruk |
Kayu Tanam - Malam belum benar-benar larut ketika langkah tergesa rombongan pemerintah daerah memecah sunyi di Nagari Anduring, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Padang Pariaman, pada Senin (4/5/2026) malam.
Di tepi Sungai Batang Anai yang gelap dan masih menyimpan ancaman, Bupati John Kenedy Azis berdiri, menatap arus yang beberapa jam sebelumnya hampir merenggut nyawa seorang warga lanjut usia.
Tak ada waktu untuk basa-basi. Baru saja kembali dari perjalanan dinas luar daerah, ia langsung meluncur ke lokasi.
Menurut Bupati John Kenedy Azis, kejadian hanyutnya Afrizal Yatim (70) bukan sekadar insiden. Tapi alarm keras atas rapuhnya akses keselamatan warga yang selama ini terpaksa bertaruh nyawa saat menyeberang.
Di hadapan warga dan perangkat nagari, nada suaranya tegas, nyaris seperti ultimatum. “Besok pengerjaan jembatan darurat harus dimulai,” katanya lantang.
Ia meminta dukungan penuh masyarakat agar tak ada lagi alasan keterlambatan di lapangan.
Peristiwa yang memantik respons cepat itu terjadi begitu dramatis.
Afrizal Yatim dilaporkan hanyut saat mencoba menyeberangi sungai hanya dengan berpegangan pada seutas tali. Arus deras tak memberi ampun, tubuh renta itu terseret dan hampir hilang di pusaran air.
Namun di tengah kepanikan, muncul keberanian yang tak banyak orang miliki. Seorang pemuda, Kadri Maiwansyah (25), tanpa ragu menerjang arus.
“Ambo lansuang tajun ka batang aie untuak manolong pak Afrizal nan hanyuik dan hampie tabanam,” ucapnya lirih, menggambarkan detik-detik menegangkan penyelamatan itu.
Aksi nekat tersebut berbuah penghargaan. Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman langsung memberi apresiasi kepada Kadri.
Sebuah telepon seluler diserahkan langsung oleh bupati, simbol terima kasih atas keberanian yang menyelamatkan nyawa.
Dalam kunjungan itu, Bupati John Kenedy Azis tidak sendiri. Ia didampingi Wakil Bupati Rahmat Hidayat, Pj.Sekda Hendra Aswara, Ketua TP PKK Nita Azis, jajaran OPD, hingga Camat setempat.
Kepada mereka, instruksi tegas disampaikan. Tidak ada kompromi dalam percepatan pembangunan jembatan darurat, dan pengawasan harus dilakukan setiap hari dengan laporan rutin.
Fakta pahit tak bisa dihindari. Jembatan penghubung yang dulu menjadi urat nadi masyarakat telah lama roboh diterjang banjir pada November 2025. Sejak itu, warga hanya mengandalkan cara seadanya untuk menyeberang.
Meski pembangunan jembatan permanen sudah masuk dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera Barat, realisasinya belum menyentuh kebutuhan mendesak di lapangan.
Kini, jembatan darurat menjadi harapan satu-satunya. Sebelum korban berikutnya benar-benar tak sempat diselamatkan.(saco).
Komentar