Seratus Lebih Warga Sungai Batang Ikuti Diskusi Huntap dan Edukasi Mitigasi Bencana

Iklan Atas

Seratus Lebih Warga Sungai Batang Ikuti Diskusi Huntap dan Edukasi Mitigasi Bencana

Selasa, 27 Oktober 2026

.


Agam, fajarsumbar.com - Kepastian hunian pascabencana dan kesiapan menghadapi ancaman bencana menjadi perhatian utama dalam kegiatan Jejak PengabdiHAN 2026 yang digelar Himpunan Mahasiswa Hukum Administrasi Negara (HIMA HAN), Fakultas Hukum Universitas Andalas, di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Jumat (23/10/2026).


Kegiatan yang berlangsung pada 22–25 Oktober 2026 tersebut diikuti lebih dari 100 warga. Program ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Lustrum XV dan peringatan 75 tahun Fakultas Hukum Universitas Andalas.


Dalam kegiatan itu, mahasiswa menghadirkan ruang dialog antara masyarakat dan pemangku kepentingan untuk membahas keberlanjutan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak bencana. Selain itu, masyarakat juga mendapatkan pembekalan mengenai langkah-langkah menghadapi situasi darurat.


Diskusi menghadirkan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Andalas, Prof. Dr. Kurnia Warman, S.H., M.Hum., serta perwakilan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Agam, Rudi Hendri, S.T.


Prof. Kurnia Warman menguraikan aspek hukum pengadaan tanah untuk pembangunan hunian tetap maupun hunian sementara (huntara), mulai dari prinsip dasar hingga tahapan pelaksanaannya. Ia juga menjelaskan persoalan status kepemilikan tanah yang menjadi salah satu hal penting bagi masyarakat terdampak bencana.


Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara pengadaan tanah untuk kepentingan umum dan pengadaan tanah untuk penyediaan hunian bagi korban bencana. “Tanah hasil pengadaan tanah huntap-huntara, statusnya akan menjadi milik korban bencana, bukan milik negara seperti pengadaan tanah untuk kepentingan umum,” jelasnya.


Penjelasan tersebut diharapkan dapat menjawab keraguan masyarakat terkait status tanah dan kepastian hak atas hunian yang ditempati. Bagi warga yang kehilangan atau mengalami kerusakan rumah akibat bencana, kejelasan mengenai kepemilikan tanah menjadi bagian penting dalam proses pemulihan kehidupan mereka.


Sementara itu, Rudi Hendri memaparkan upaya pemerintah Kabupaten Agam dalam menangani dampak bencana, khususnya terkait penyediaan hunian tetap bagi masyarakat yang terdampak.


Ia menjelaskan sejumlah aspek dalam proses penyediaan huntap, termasuk penetapan lokasi relokasi, mekanisme penyerahan aset, serta hak dan kewajiban warga sebagai penerima manfaat.


Pembahasan tersebut mendapat perhatian besar dari peserta. Warga memanfaatkan kesempatan diskusi untuk menyampaikan pertanyaan dan aspirasi, terutama mengenai kepastian waktu penyerahan hunian tetap.


Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa persoalan tempat tinggal masih menjadi kebutuhan mendesak bagi warga yang terdampak bencana. Karena itu, komunikasi antara pemerintah dan masyarakat dinilai penting agar proses pemulihan dapat berjalan dengan lebih jelas dan terarah.


Tak hanya membahas persoalan hunian, Jejak PengabdiHAN 2026 juga memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana dengan menghadirkan Fauzan Azima, S.T., dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam.


Dalam sesi tersebut, masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai potensi banjir, tindakan yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi, prosedur evakuasi, serta akses terhadap informasi dan kontak darurat.


Warga juga diingatkan mengenai pentingnya menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan dasar untuk digunakan ketika keadaan darurat mengharuskan mereka meninggalkan rumah. “Mempersiapkan tas siaga bencana dapat menekan risiko jika situasi darurat terjadi dan mempercepat proses evakuasi,” jelas Fauzan.


Edukasi ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak hanya memahami risiko bencana, tetapi juga mampu mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi diri dan keluarga.


Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan tersebut turut diisi dengan pembagian bibit pohon petai secara gratis kepada warga yang hadir. Bibit itu diperoleh dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat untuk mendukung penghijauan sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.


Melalui Jejak PengabdiHAN 2026, HIMA HAN Fakultas Hukum Universitas Andalas berupaya menghadirkan kontribusi nyata mahasiswa bagi masyarakat Nagari Sungai Batang. Perpaduan diskusi mengenai kepastian hunian dan edukasi kebencanaan diharapkan dapat mendukung pemulihan pascabencana sekaligus memperkuat kesiapan warga menghadapi risiko bencana di masa mendatang. (Ramayana Putri)